Terlambat: satu kata yang penuh makna

Terlambat: satu kata yang penuh makna

Setiap hari setelah puas dengan tidur malam, gue bangun di pagi hari yang suasananya sudah mulai merepotkan. Kamar mandi masih terisi oleh adik yang biasanya menghabiskan waktu minimal 30 menit di dalam ruang sepi nan dingin itu. Yah, seperti biasanya gue terlambat bangun. Walaupun alarm dari ponsel sudah berisik dari pukul setengah 6 pagi, tapi tetep aja setelah bersusah payah bangun dan beranjak dari tempat tidur untuk mematikan bisingnya alarm itu, gue kembali lagi berselimut hangat di atas kasur.

Kembali lagi, sering kali berulang secara terus menerus selama liburan panjang ini. Malasnya bangun subuh, hingga lupa bahwa kewajiban di setiap waktu subuh ternyata belum bahkan tidak dilaksanakan. Pengakuan dosa yang sangat memalukan untuk perempuan seusia gue ini. Sangat memalukan.

Suasana pagi yang cerah membuat gue terlena di atas bantal panjang yang telah menjadi saksi bisu mimpi-mimpi gue setiap malam. Namun, gue tidak boleh terus terlena dengan kenikmatan tidur lama. Karena sebenarnya tidur kelamaan itu akan membuat badan pegal-pegal, kepala keleyengan, dan level semangat terjun bebas.

Terlambat. Itu yang selalu gue alami. Dan ada banyak hal yang membuat gue mengutuk kata-kata tak berdosa itu.

Terlambat. Selalu demikian yang terjadi. Dalam setiap aspek dalam hidup gue. Dalam setiap langkah yang hendak gue ambil.

Terlambat. Membuat gue menyesal dengan amat sangat dalam. Membuat gue harus kehilangan uang untuk alokasi anggaran yang lainnya.

Terlambat. Membikin otak lamban bekerja. Terlalu cepat dipanaskan. Lalu terlalu cepat rusak.

Terlambat. Hanya itu yang membuat gue ingin memutar balik waktu yang gue miliki sebelumnya.

Terlambat. Satu hal yang luar biasa akibatnya.

Capek kalau harus gue ceritain satu persatu kesalahan yang gue lakukan karena terlambat. Sebab utama yang sebenarnya tidak boleh mendapat pemakluman. Walaupun memang benar kalau ada faktor lain di luar kendali kita sebagai manusia biasa yang dapat menyebabkan kita terlambat. Namun, pada dasarnya semua itu berasal dari dalam diri kita. Berasal dari nafsu kemanusiaan kita. Manusia lemah yang tak berdaya kala dihanyutkan oleh satu hasrat untuk bersanati-santai.

Terlambat bayar kuliah, bayar tagihan listrik, bayar tagihan telepon, akibatnya harus menanggung denda yang sebenarnya uang tersebut dapat kita manfaatkan untuk hal lainnya yang lebih berguna.

Terlambat mengatakan cinta, akibatnya bisa saja orang yang kita sukai itu dimiliki oleh teman yang lain.

Terlambat menyadari bahwa orang yang kita sukai itu ternyata juga menyukai kita, akibatnya kala kita sudah putus asa, justru kita kehilangan dia, dan dia pun dalam keputusasaan yang sama.

Terlambat mengumpulkan tugas, akibatnya nilai berkurang dan mendapatkan catatan khusus dari penilai.

Terlambat bangun di pagi hari padahal hari itu juga ada ujian, akibatnya nilai akhir buruk dan harus mengulang satu semester ke depan.

Terlambat.

Terlambat.

Terlambat.

dan jutaan kalimat dengan kata utama “terlambat” lainnya masih dapat berlangsung dalam hidup.

Manusia harus berusaha. Manusia akan tetap berusaha untuk tidak terlambat dan mengambil tindakan pada waktu yang tepat. Namun, manusia tidak pernah tau, tidak pernah menyadari kapan sebenarnya waktu yang tepat itu datang. Saat manusia sadar, menyadarinya pun sudah terlambat.

One thought on “Terlambat: satu kata yang penuh makna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s