I’d Like to Thanks to…

I’d Like to Thanks to…

Tanggal 28 Agustus kemarin, gue berserta kawan-kawan BEM sesama kadept-kabiro dan waka-waka-nya, kami berbuka puasa sekaligus menikmati waktu sahur bersama di rumah salah satu dari kami. Acaranya gak cuma makan bareng dan solat berjamaah, tapi ada satu sesi acara yang intinya kami saling bercerita tentang kehidupan kami selama di BEM periode ini. Acaranya berlangsung cukup lama, dari sekian jam yang kami habiskan hingga larut dan sahur mengundang, gue dan 3 orang teman gue yang lainnya tidak berkesempatan untuk bercerita. Selain karena kendala waktu, juga karena semua sudah mulai lelah karena tidak tidur semalaman. *tega nian yang meninggalkan kami untuk tidur… hehe piss

Daripada tetap menjadi cerita dalam angan dan pikiran gue saja, lebih baik gue tumpahkan sebagian materi sharing dari gue di sini. Di blog pribadi gue yang mungkin tidak penting untuk teman yang lain, tapi sangatlah penting untuk orang yang malas berbicara seperti gue.

Awal gue bergabung di kepengurusan BEM tahun ini sepertinya telah gue ceritakan pada post gue yang lama lalu. Tapi, biarlah sedikit gue rewind. Gue diajak oleh seorang teman bernama Akbar Nikmatullah Dachlan, yang akrab disapa Abay. Entah ada angin apa sehingga gue direkrut untuk bergabung satu tim dengannya. Tapi, setelah sesi sharing kemarin gue mendapatkan berita baru lagi, bahwa gue bukannya mahasiswa S1 regular angkatan 2007 yang menduduki puncak pilihan Saudara Abay. Karena teman gue yang lainlah yang diajaknya, yang kini telah menjadi salah satu kabiro di BEM FEUI tahun 2009 ini. Kecewa? Umm, gue gak bisa bohong, jawabannya pasti “Ya, kecewa”. Di masa awal bergabungnya gue dengan BEM dan teman-teman BPH yang lain, gue merasa agak di-underestimate-kan oleh yang lain. Entah karena gue yang gak punya latar belakang organisasi di Kampus pada tahun sebelumnya, atau karena gue gak pernah exist dengan ikutan bidding-bidding untuk kepanitiaan yang begitu banyaknya di FE atau bagaimana, sehingga gue ngerasakan “peng-underestimate-an” itu. Atau semua itu hanya sekadar ketakutan dan keminderan gue belaka? Entahlah.

Hubungan kerja sama gue dan Abay tidak begitu lancar pada awal-awal kepengurusan. Kami masih sering diam dan berbicara ala kadarnya. Pokoknya komunikasi kami masih kacau dan jarang sekali. Namun, setelah masa open recruitment selesai, dan kami mendapatkan 6 orang staff, gue ngerasa komunikasi itu lebih bisa terjalin dan berbangun dengan mantap. Kami berdelapan seringkali kumpul bersama, bukan hanya untuk rapat, tapi juga untuk makan bareng, jalan-jalan, foto-foto, atau mengerjakan setiap proker dengan beramai-ramai. Gue pun merasakan kenyamanan yang luar biasa dengan suasana ini.

Namun, datang suatu ketika di mana gue agak kurang setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Kadept gue itu, dan ada kesalahpahaman akan suatu hal tersebut, kembali gue merasa tidak nyaman. Gue berpikir bahwa Abay adalah orang keras hati dan ingin segala hal yang dia harapkan itu tercapai, walaupun banyak yang tidak menyukai hal itu. Rasanya malas untuk ketemu temen-temen Adkesma di BEM. Malas untuk berbicara tentang Adkesma di BEM. Malas bertemu dengan Abay pastinya. Tapi, mau menghindar bagaimanapun juga gue tetep gak bisa ke mana-mana. Gue tetep gak bisa sembunyi selamanya. Dan saat gue ngobrol dengan dia, pikiran gue tentang segala keegoisan dia sirna, Abay adalah seseorang yang sebenarnya sangat menghargai pendapat orang lain, ini semua hanya masalah komunikasi yang masih dapat diperbaiki.

Lalu, tiba saat di mana gue ingin sekali merealisasikan mimpi-mimpi gue dengan bergabung bersama sebuah kepanitiaan besar di FEUI. Open recruitment koor-wakoor untuk semua seksi yang ada dalam bagan kepanitiaan sekaliber Jazz Goes To Campus. Sejak menjadi panitia JGTC tahun lalu, gue bercita-cita untuk tetap bisa meneruskan bekerja dalam kepanitiaan ini, apapun halangan dan rintangan yang harus gue hadapi. Gue pun daftar. Tapi, saat itu gue belum sempet, tepatnya belum berani bicara jujur pada Abay, bahwa wakilnya yang menyebalkan ini berniat untuk menambah kesibukan lain di kampus. Tentunya kalau gue diterima JGTC, maka pikiran gue akan bercabang semakin banyak. Bukan hanya pada kuliah dan adkesma BEM, tapi juga dengan tim dekorasi JGTC ke 32 ini.

Akhirnya, datanglah keberanian itu. Gue harus memaksakan diri untuk memberitahu Abay soal niatan gue ini. Satu jam sebelum wawancara JGTC, gue bilang juga sama Kadept gue kalau gue daftar jadi koordinator dekorasi 32nd JGTC. Kaget? Tentu saja dia kaget. Kecewa? Tentu saja dia kecewa. Mungkin dalam kepalanya sudah tumbuh dan berkembang pernyataan caci-maki, hina-dina, penyesalan, kekecewaan, kekesalan, kebetean karena telah merekrut gue sebagai wakilnya dalam organisasi ini. Tapi, kata-kata yang terdengar oleh telinga gue justru, “Yaudah, mau diapain lagi? Kan udah daftar, yah masa dibatalin?” Dan gue merasa tidak enak hati. Ughh…. kalo gue jadi Abay dan mendengar pernyataan layaknya penghiatan itu keluar dari mulut wakil gue, pasti gue bakal kesel dan dongkol setengah mati. Tapi, ya gue gak bisa ngapa-ngapain juga sebagai atasannya, karena ini semua adalah tentang keinginan seorang manusia untuk mengembangkan kemampuannya. Abay mengizinkan gue bergabung dengan JGTC, karena gue yakin dia gak mau membatasi kemampuan temannya yang lain. Gue pun tidak hanya berdiam diri dan hanya bisa membuat orang lain sakit hati, gue pun mengucap janji bahwa gue tetap akan menomorsatukan adkesma dibandingkan kepanitiaan ini. Dan gue gak akan lalai dari tugas gue sebagai wakadept Adkesma BEM FEUI 2009.

Sungguh, dalam hampir satu periode ini gue di BEM FE, satu orang yang pastinya berada dalam list utama yang pantas gue haturkan terima kasih adalah dia. Dia yang telah membuka pintu kesempatan untuk gue berkecimpung diorganisasi kemahasiswaan untuk pertama kalinya. Dia yang telah membantu gue mendapatkan banyak teman baru yang mengasyikan. Dia yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan hartanya nya untuk jalan-jalan dan mentraktir kami makan. Dia yang telah mengizinkan gue menggapai mimpi gue yang lainnya bergabung dengan kepanitiaan besar. Dia yang telah mempercayakan gue untuk merealisasikan janji gue. Dia yang telah rela memaklumi kondisi gue yang kadang menyebalkan. Dia yang telah dengan luar biasanya membuat gue berbicara tentang ini semua.

Terima kasih Abay…

5 thoughts on “I’d Like to Thanks to…

      1. iya alhamdulillah
        udah kurus lagi sekarang

        ikut ya pembubaran walau abay ga ikut (misal) mudah2an si abay ikut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s