Puasa-Puasa Kok Maling??

Puasa-Puasa Kok Maling??

As usual, gue pulang ke rumah dari kampus adalah mengan menggunakan jasa perkereta-listrikan Jabodetabek. Kejadian baru aja kemarin sore. Gue menaiki kereta ekonomi yang menuju Bogor dengan jam kedatangan sekitar pukul 16.45-an. Rupanya cukup penuh juga. Berdesak-desakan, saling injak -menginjak, sikut-menyikut, sampai senggol-menyenggol sudah menjadi makanan sehari-hari gue setiap pagi hari dan sore hingga menjelang malam suntuk. Tidak berapa lama setelah gue berdiri dengan agak tidak tenang, karena ada seorang ibu-ibu yang hendak turun dengan tergesa-gesa dengan tubuhnya yang cukup besar agak membuat punggung gue kesakitan, tiba-tiba ada seorang laki-laki berbadan cukup tinggi dengan kulit putih berbalut kemeja putih polos dan celana bahan hitam semata kaki berujar bahwa ada copet. Dia meraba tas ranselnya yang berwarna coklat yang ternyata sudah dinodai dengan luka yang cukup dalam dan lebar. Alias sudah disilet oleh orang yang tidak sepantasnya disebut orang. Lalu dia kembali bercerita, sambil merogoh dan memeriksa keadaan tasnya yang sudah menyesakkan dada itu, dia bilang ponselnya telah raib. Entah pergi digondol oleh setan apa di bulan suci ramadhan ini. Dia mencoba menelepon nomor ponselnya dengan menggunakan ponsel penumpang lain di gerbong yang sama. Namun, tidak terdengar suara ringtone ponsel sama sekali di sekitar TKP. Sepertinya Sang Panjang Tangan itu telah melarikan diri jauh sebelum kereta sampai di stasiun Pondok Cina. Pria malang itu kembali berujar, “Bukan rezeki saya lagi kayaknya.” Ck,ck,ck…

Walaupun dia berusaha untuk terlihat santai dan ikhlas, namun pada dasarnya hatinya miris dan merasa sedih. Itu tercermin dari raut wajahnya ketika gerbong sudah mulai lengang dan dia telah mendapatkan tempat untuknya duduk. Gue mulai memperhatikan dia, matanya berkaca-kaca, bibirnya sebentar-sebentar digigitnya, dan tatapannya hanya menuju satu titik yaitu alam raya yang terbentang di luar kereta.  Laki-laki tampan yang malang itu tentunya kecewa, sangat kecewa bahkan. Karena waktu tas gue disilet walaupun tidak ada barang gue yang hilang, sedihnya udah setengah mati. Mengingat bahwa itu adalah tas gue satu-satunya yang laik pakai dengan ukuran yang pas untuk bepergian ke kampus atau sekedar mengunjungi tempat wisata. Gimana dengan dia? Dia yang kehilangan sebagian besar nilai guna tasnya dan kehilangan sepenuhnya alat komunikasinya…

Padahal kemarin itu adalah salah satu hari mulia di bulan suci yang penuh berkah, tapi kenapa masih ada setan dalam diri manusia yang tidak dibelenggu oleh keadaan???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s