Ice Skate Time!!

Ice Skate Time!!

Memulai liburan kuliah dengan bermain bersama kawan-kawan memang sangat menyenangkan! Itulah yang telah gue lakukan bersama kawan sepermainan di BEM FEUI 2009. Delapan mahasiswa berprestasi yang hendak bertualang di olahraga seluncur es.

Gue, Aniez, Cubul, Riska, Fyra, Fadel dan Yusuf yang diketuai oleh tetua kami, Badrul, berdiri mengantre di depan loket pintu masuk arena ski es yang yang terletak di salah satu mal di ibu kota Jakarta pada Sabtu siang yang sangat ramai itu. Tertulis di depan kami, harga tiket dan ketentuan atau petunjuk lainnya seputar olahraga yang menantang ini. Mengapa gue sebut menantang? Lihat saja nanti!

Informasi:

For your info, pada hari kerja (Senin-Jumat) harga tiket masuknya Rp 38.000. Untuk akhir pekan (Sabtu, Minggu), hari libur sekolah, atau libur nasional harga yang berlaku adalah Rp 42.000. Harga tersebut berlaku untuk 2 jam, kalau lebih dari 2 jam akan kena biaya tambahan sebesar Rp 8.000 untuk setiap jamnya. Tiket itu sudah termasuk sepatu dan bantuan medis bila terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.

Karena kita akan berseluncur dengan sepatu, maka bawalah kaus kaki sendiri dari rumah, kalau lupa membawa di sana juga dijual kok, harganya Rp 8.000. Jangan tanya gue soal kualitas kaus kaki tersebut, dan jangan pula berpikir untuk menyamakannya dengan kaus kaki yang dijual seharga Rp 80.000 di Zara. Karena memang sudah pasti akan berbeda.

Udara di dalam lapangan seluncur cukup dingin, lebih baik lagi kalau kita bawa sarung tangan sendiri, beli di tempat juga gak apa-apa kok, tersedia dengan harga Rp 8.000 juga.

Kalau butuh loker untuk menyimpan tas atau barang bawaan di sana juga tersedia. Namun kalau lu adalah orang kaya yang berduit tak terbatas, silahkan saja untuk bolak-balik buka-tutup loker penitipan barang. Tapi kalo lu adalah orang kaya yang berduit tak terbatas namun luar biasa hemat, janganlah berpikir demikian. Apalagi untuk lu yang orang kaya yang berduit sangat terbatas dan hemat lagi, jangan sampai lupa untuk mengantongi sesuatu yang akan sangat dibutuhkan setiap saat. Karena  ada biaya penyewaan loker lagi yang akan dibebankan pada kita. Dihitungnya berdasarkan koin, satu koin untuk satu kali membuka-tutup pintu loker dengan harga Rp 5.000/koinnya. Bayangkan kalau lu terus bolak-balik buka-tutup pintu loker itu, berapa banyak koin yang lu butuhkan? Dan berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan koin tersebut?

Suasana di sana akan sangat ramai sekali, apalagi kalau lagi masa libur sekolah. Luar biasa padat!

Aku Tidak Ditakdirkan sebagai Atlet Seluncur Es

Ini merupakan kali pertama gue bermain seluncur es. Selain membutuhkan keseimbangan badan yang baik, diperlukan juga feeling untuk memainkan kaki kanan kaki kiri untuk meluncur dengan bebas di atas luasnya balok es. Kedua hal itu tidak ada dalam diri gue sama sekali.

Pertama kali menginjakkan kaki di atas es itu, tubuh gue goyah. Licin, dan licin, dan licin, itulah yang gue rasakan. Jatuh? Sudah pasti! Sepuluh menit pertama gue habiskan dengan berpegangan di pinggir lapangan sambil melihat orang-orang di sekitar gue dengan selamatnya meluncur ke sana kemari. Betapa sia-sianya uang yang udah korbankan kalau demikian caranya? Gue pun minta diajari oleh teman gue yang lain yang sudah lumayan mahir meluncur. Dua puluh menit berikutnya, gue sudah mulai berjalan perlahan walau masih berpegang tangan pada tiang di sekeliling lapangan itu. Jatuh? Ya! Lagi! Teman gue yang bernama Yusuf kemudian mengajari gue. Dia bilang badan gue harus sedikit dicondongkan ke depan, dan pelan-pelan langkahkan ke depan kaki kanan, dengan memundurkan sedikit kaki kiri hingga gerigi yang berada di depan sepatu terasa beradu dengan lapisan es. Lakukan hal tersebut sambil berusaha mendapatkan feel berseluncur itu. Jangan pernah takut jatuh, katanya. Lalu saat gue jatuh, dia berusaha sekuat tenaga mengangkat tangan gue, lalu dia pun berkata, “lu berat, Ra!” Haaaa………..!!! Setelah diingat-ingat 6 sudah gue terjatuh. Rasanya?? Jangan pernah tanya!

Berlatih lagi, berlatih lagi hingga gue mulai merasa ada kemajuan. Dan ketika gue hendak menuju pintu keluar, gue mencoba untuk meluncur, ada laki-laki yang menghalangi jalan lurus gue, dia malah enak ngobrol dengan ceweknya. Karen ague belum bisa ngerem, akhirnya gue pun berteriak, “maafff….!!!! Saya takut jatuh!!!!” Si cowok minggir, dan si cewek tertawa. Hufh!

Kemudian tiba saatnya pelapisan es. Lapangan es harus dikosongkan dari pengunjung, es dilapisi, membutuhkan 20-30 menit. Di saat itulah kita pakai dengan beristirahat sejenak. Saat telah selesai, semuapun bergegas masuk ke arena. Namun, entah kenapa gue kembali tidak bisa memainkan kaki gue ini dengan seimbang. Berada di tengah lapangan es, gue kembali terjatuh kali ini cukup sakit. Lalu gue dibantu berdiri oleh seorang cewek. Saat gue bilang makasih, dia pergi, gak lama setelah itu gue jatuh lagi di tempat yang tidak jauh dari situ, dengan posisi jatuh yang tidak mengenakkan hingga pergelangan tangan kanan gue sakitnya luar biasa. Mau berdiri sendiri pun tak sanggup. Cewek yang tadi bantu gue berdiri dia lewat situ lagi, tapi gue berharap dia gak liat bahwa yang jatuh adalah gue lagi. Ya, dia pun melalui gue begitu saja. Gue lihat Fadel beberapa meter di depan gue, gue pun berteriak sekuat tenaga berulang kali hingga dia datang dan mengulurkan tangannya untuk membantu gue bangun. Tapi tangan kanan gue gak sanggup untuk gue angkat. Dan gue bilang, gue gak sanggup berdiri. Kemudian ada petugas di sana yang menghampiri gue, dan menawarkan bantuannya. Akhirnya gue pun berdiri dengan Fadel menuntun tangan kiri gue, dan petugasnya menuntun sebelah kanan gue. Dia nawarin gue untuk ke ruang medis, gue pun mengiyakan.

Gue dan Fadel masuk ruang itu, ada perempuan berkerudung sedang mengobati tangan seorang bapak yang terluka jarinya karena saat ia jatuh tangannya di lantai es terkena gerigi sepatu peseluncur lainnya. Tapi untungnya gak parah-parah banget. Tiba giliran gue diperiksa oleh perempuan itu, yang sakit adalah tangan kanan gue, lalu dia semprotkan cairan dingin yang sering kali gue lihat dipertandingan sepak bola untuk mengobati pemainnya yang cedera ringan. Rasanya?? Dinginnnn…. Maknyosss…. Hahaha

Dia tanya lagi, apa ada yang lain yang terasa sakit, lalu gue bilang tidak. Padahal kalau boleh jujur, bokong gue sakit! Udah 8 kali membentur balok es yang luar biasa kerasnya itu! Tapi, gak sanggup mulut gue berkata demikian. Malu yang ada…

Keluar dari ruang medis, udah ada temen-temen gue yang lain nungguin gue di pinggir lapangan depan pintu masuk ke ruang medis itu. Wah, teman-teman sepermainan es ski yang luar biasa!!

Kalau ada yang baca tulisan ini dan berkata, “Yak ampun, Ira sampai harus dibawa ke medis segala!” lalu bertanya, “Emang sakit banget, ya?” Gue bakal bilang, “Lu pikir!?”

Gue merasa bahwa ini adalah saat pertama dan terakhir kalinya gue main ice skating!

One thought on “Ice Skate Time!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s