Obsesi: Bikin Film!!!

Obsesi: Bikin Film!!!

Mungkin agak terlalu dini untuk gue yang masih awam dalam dunia hiburan khususnya perfilman Indonesia, untuk menyatakan bahwa gue punya obsesi untuk membuat film. Namun, banyak orang yang selalu bilang bahwa mempunyai mimpi bukan suatu hal yang dilarang, melainkan suatu keharusan, karena katanya, hidup itu dimulai dari mimpi.

Film yang ingin sekali gue ciptakan, bukanlah sebuah film drama percintaan klasik di mana sepasang anak manusia yang saling mencinta namun terhalang pintu adat atau aturan keluarga. Bukan juga berkisah tentang drama komedi di mana para pemerannya bertingkah bodoh sambil berharap akan ada manusia yang tertawa karena dia mau mempermalukan dirinya dikhalayak ramai. Bukan pula film peperangan di mana si pahlawan akan meninggal dunia di akhir kisahnya. Juga bukan sejenis film fiksi ilmiah, tatkala suku biru menjadi sorotannya.

Bukannya gue gak suka dengan film-film semacam itu. Namun, ada hal yang tiba-tiba muncul, out of the blue, saat gue mengalami perjalanan selama 21 jam yang sangat luar biasa yang gue alami bersama teman yang lain di akhir liburan kuliah Januari lalu.

“Semua seolah muncul kembali, saat gue menyaksikan kuliah luar biasa yang disajikan oleh Ibu Sri Mulyani di depan para anggota Dewan yang terhormat di dalam rapat Panitia Khusus Century. Saat gue menyaksikan tayangan berita bagaimana sepak terjang, tingkah polah, tutur kata, sopan dan santun yang ditunjukkan para anggota Dewan itu selama melakukan tugas khususnya. Saat mereka saling berdebat tanpa ada penyelesaian apa-apa.

Semua seolah muncul kembali, saat gue bersama keluarga menyaksikan acara di TV. Sebuah tayangan siaran langsung pertandingan sepak bola Indonesia, Persib Bandung menantang Persebaya Surabaya. Di mana Persib memenangkan pertempuran tersebut. Suasana stadion riuh ramai. Para pendukung masing-masing kesebelasan beradu suara, berusaha menyemangati para pejuangnya di lapangan hijau dengan nyanyian-nyanyian andalannya, yang kemudian berubah menjadi mantera yang sakti mandra guna ketika terdengar oleh para pemain yang sedang berebut bola itu.

Semua seolah muncul kembali, saat gue berada di kamar dengan tas punggung cukup besar untuk dijejali sejumlah pakaian ke dalamnya. Saat gue berpamitan dengan orang tua, karena akan berpisah selama beberapa hari ke tempat yang jauh. Ingatan gue berputar kembali, ketika gue berkumpul dengan teman-teman saat memulai perjalanan. Tawa dan keriangan selalu bersama kami. Dan ketika kami semua berdoa bersama di ruang tunggu sebuah stasiun kereta api di Pasar Senen.

Lahir sebuah bayangan dalam pikiran gue, pada pedagang asongan yang sedang menjajakan barang dagangannya di atas kereta. Suaranya yang lantang dan pekikannya yang nyaring terdengar di sepanjang gerbong untuk memasarkan barang-barang, makanan, atau minuman jualannya. Wajahnya ceria, senyumnya mengembang lebar menghiasi wajah mereka yang agak kumal. Mereka dan para anggota Pansus Century sama-sama tengah berjuang. Berjuang demi sebutir nasi, berjuang demi keluarga yang sedang menanti di rumah berharap akan ada rezeki yang datang ke rumah mereka sesaat lagi, berjuang demi keluar dari kesulitan dan permasalahan hidup.

Mereka sama-sama berjuang untuk Negara. Anggota Dewan berjuang dengan cara menjadi wakil rakyat dan membuat peraturan agar negeri ini tertib. Para pedagang asongan itu berjuang dengan barang dagangannya, agar keluar dari garis kemiskinan, dengan begitu ia berusaha untuk membantu negeri ini mengurangi angka kemiskinan.

Membaca sebuah artikel Koran selama menempuh perjalanan, membuat gue membayangkan apa yang terjadi sebelumnya. Massa pendukung Persebaya membuat keonaran di atas gerbong kereta ekonomi yang sudah sengaja disediakan untuk mereka menyambangi stadion di Bandung. Entah apa yang melatar belakangi mereka, sehingga berani berbuat onar, tidak segan-segan memecahkan kaca dan merusak kereta yang telah disediakan special untuk mereka demi kecintaannya pada tim sepak bola favoritnya yang akan bertanding, dan tidak ragu untuk menjarah sumber pendapatan para pedagang di daerah yang mereka lintasi, yaitu Solo. Pada petugas keamanan dan pemerintah daerah setempat sudah tak bisa berbuat banyak, saking brutalnya mereka.

Saat di gedung DPR, para anggota rapat Pansus Century dan para saksi yang didatangkan saling melempar kata-kata, saling beradu argumen, jauh di luar gedung megah itu, tepatnya di atas rel kereta api di Surakarta, para supporter Persebaya atau Bonek, juga saling melempar dengan warga di sekitarnya, namun yang mereka lempar tidak hanya kata-kata, tidak hanya umpatan, namun disertai bebatuan. Mereka saling beradu kekuatan, lemparan siapa yang paling tepat sasaran. Sasaran lemparnya, tentu saja manusia. Namun, tidak sedikit yang tidak tepat sasaran. Alhasil, fasilitas umumlah yang rusak, kaca-kaca pecah. Padahal kalau tepat sasaran, paling-paling kepala bocor, atau nyawa melayang karena jatuh dari atap kereta.

Inilah permasalahan negeri ini, para masyarakat tingkat atas, seperti anggota Dewan yang terhormat saling bertarung, dan para rakyat kecil yang mereka wakili aspirasinya juga ikut-ikutan bertarung.

Siang telah usai, matahari telah tenggelam seiring dengan bumi yang berputar, namun ketegangan belum juga selesai. Pukul 1 dini hari, kereta ekonomi tujuan Malang yang dipenuhi oleh para penumpang dari berbagai suku dengan bermacam kepentingan terpaksa dihentikan di sebuah stasiun di Jawa Tengah dan ditunda keberangkatnya karena masih ada beberapa massa Bonek yang menunggu kereta di stasiun Solo Jebres. Petugas keamanan kereta, meminta para penumpang untuk menutup kaca jendelanya. Semua tertutup rapat. Namun, penantian tanpa kepastian keberangkatan harus dialami selama 3 jam. Hingga akhirnya keretapun kembali dijalankan. Semua penumpang, mulai khawatir dan cemas kalau-kalau masih ada Bonek yang menunggu di stasiun di depan sana, dan menerobos masuk ke dalam kereta ekonomi yang kami tumpangi, melakukan penjarahan dan kekacauan di gerbong kereta.

Melintasi Surakarta, perjalanan kereta terasa aman-aman saja, saat semua orang mulai berusaha untuk meringankan beban pikirannya dan mulai melepaskan rasa waspadanya, tiba-tiba suara hantaman keras pada kaca jendela kereta api kembali mengagetkan kami. Pecahan kaca berserakan di dalam gerbong di sebuah blok tempat duduk penumpang. Semua mulai panik, teriakan ketakutan bergema di sepanjang gerbong. Ada yang berusaha melindungi kepalanya dengan tas. Ada bapak-bapak yang berusaha menenangkan anaknya yang menangis penuh ketakutan. Kami semua berusaha berlindung dengan membungkukkan badan kami. Ada beberapa yang tiarap. Seiring laju kereta yang cukup cepat, suara dentuman terus terdengar. Seperti tembakan yang bertubi-tubi. Rasanya seperti berada dalam film Wind Talkers yang diperankan oleh Nicholas Cage. Bebatuan yang menghantam kaca membuat suasana menjadi tegang kembali.

Kereta terus bergerak cepat, hingga akhirnya suara itu tak terdengar lagi. Kini yang terdengar adalah kabar berita bahwa ada seorang ibu yang tangannya terluka terkena pecahan kaca. Sedih rasanya berusaha mengaitkan semua ini dalam satu kesatuan. Di mana semuanya dipaksa harus saling berkaitan walau tidak satupun dari sistem ini yang saling mengenal. Hanya karena satu kejadian, kami yang tidak bersalah pun ikut merasakan dampak dan kepedihan yang ada.

Namun, apakah anggota Dewan itu melihat apa yang sebenarnya terjadi pada lingkungan yang (seharusnya) sedang ia wakili ini? Adakah mereka peduli dengan bocornya kepala seorang Bonek? Adakah mereka peduli bahwa esok hari akan ada rakyat Indonesia yang tidak makan karena sumber mata pencahariannya telah dirampas oleh orang lain? Adakah mereka peduli dengan rengekan anak kecil di dalam kereta yang dilempari batu itu? Adakah rasa empati mereka dapat merasakan ketegangan yang baru saja kami rasakan? Ataukah hanya kepentingan politik dan kekuasaan yang selama ini menjadi pusat kepedulian mereka?

Kami terjajah, teraniaya di negeri kami sendiri, oleh bangsa kami sendiri.”

Ya, gue hanya bermimpi. Yang entah kapan mimpi-mimpi gue ini akan menjadi kenyataan. Ini adalah obsesi gue! Spread my feeling, show them how it feels like…

3 thoughts on “Obsesi: Bikin Film!!!

  1. Lu udah pernah nonton film Bobby gak Ya??
    Gue gak ngerti itu jenis film apa… tapi yang jelas gue pengen bikin film sejenis itu.
    Perpaduan antara gambar nyata dengan gambar skenario…

    kata mutseh, itu masuk ke drama…
    tapi bukan drama romantis apalagi komedi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s