Bagaimana Rasanya, ya???

Bagaimana Rasanya, ya???

Malam kemarin gue balik dari kampus ke Bogor bareng dengan teman-teman SMA gue. Ada Anggi, dan Ghea. Dahulu kami adalah sekumpulan wanita hebat yang masih single. Namun, gue baru tau kalau ternyata Ghea sudah punya pacar sejak 9 bulan yang lalu. Ghea mengkhianati kami! Ugh!

Sejak menunggu kereta yang akan kami tumpangi datang di stasiun UI, Ghea bercerita tentang pacarnya. Sampai di dalam kereta, topik seputar romansa Ghea tetap menjadi pilihan obrolan yang seru. Ghea bercerita tentang bagaimana Bimo, pacarnya itu pertama kali bertemu di makrab salah satu ekskul di FH. Bagaimana proses pendekatannya. Sampai penantian selama 1 tahun akhirnya dipastikan dengan pernyataan cinta Bimo di kawasan Megaria, Jakarta. Bimo bertanya, “Ghea, lu mau gak ngejadiin gue pacar pertama buat lu?” Gak ada suasana yang romantis di dalamnya, tapi bagaimana dia berani mengatakannya adalah hal yang sangat romantis untuk dilakukan. Ada orang yang bilang, bahwa “Terima kasih, Maaf, dan Cinta adalah kata-kata yang paling sulit diucapkan.” Jadi menurut gue, jujur adalah sisi romantis seorang manusia.

Ceritanya gak berhenti sampai di situ saja. Bahkan setelah mereka pacaran selama 9 bulan ini, banyak hal yang menurut gue dan Anggi, heroik, yang dilakukan oleh Bimo terhadap Ghea. Bagaimana dengan sabarnya Bimo menemani Ghea menunggu keretanya datang di stasiun dan melarang Ghea masuk ke dalam gerbong kereta yang tanpa lampu, walau dengan cara yang agak unik, yakni menarik rambut Ghea. Membantu Ghea waktu kakinya terkilir jatuh dari tangga, padahal sudah beberapa hari itu Ghea agak kesal dengannya karena jarang menemani. Atau bahkan dari hal kecil yang dilakukan Bimo dengan berdiri di posisi pemberani saat menyebrang jalan. Ataupun saat tangan kekarnya berusaha melindungi kepala Ghea yang mungil dari tetesan air hujan.

Every single thing he does, sounds great for her. And the way she told me, I could see something, more than just love, but also a wish for her future life.

Entah kenapa, saat gue dengerin ceritanya Ghea itu, gue ngerasa kalau betapa indahnya kalau hidup kita bisa seperti itu. Ada seseorang yang bisa ngejagain kita, tanpa berusaha untuk menjadi body guard ataupun anjing galak. Ada seseorang yang bisa mendengarkan segala macam cerita kita, tanpa harus menjadi buku harian. Ada seseorang yang bisa bercerita pada kita, tanpa harus berusaha untuk menjadi radio. Ada seseorang yang bisa membuat hidup kita lebih hidup lagi, tanpa berusaha untuk mengubah cara hidup kita sesuai dengan keinginannya.

Menjadi single, adalah suatu pilihan, bukan karena kecelakaan. Bukan karena lu gak laku, mungkin aja karena lu yang belum tertarik untuk go public. Mungkin, karena lu masih ngerasa nyaman dengan dunia lu sendiri, padahal kita semua hidup dalam dunia yang sama. Bukan karena fisik lu yang kurang menarik, tapi mungkin karena lu terlalu sibuk untuk menutupi daya tarik pribadi lu. Atau karena lu belum sadar betul apa sebenernya daya tarik yang lu miliki. Setiap manusia itu terlahir unik, dan akan ada seseorang di luar sana, nanti, pasti, yang bisa mencintai lu dengan caranya yang unik pula. Pertanyaannya adalah “Kapan?” “Siapa?” dan “Bagaimana?” Itu aja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s