Petak Umpat di Kereta

Petak Umpat di Kereta

Pagi seperti biasa yang gue jalani. Naik kereta ekonomi dari stasiun Bogor dan turun di stasiun Univ. Indonesia. Di tengah padatnya penumpang di gerbong itu, tiba-tiba suara seorang ibu yang terdengar sedang marah berkobar di telinga. Entah apa yang dia alami, mungkin dia terdorong, atau tersikut oleh orang lain saking padatnya kereta itu. Kemudian, ibu berkerudung itu mulai bercerita pada seorang bapak-bapak di sampingnya yang sepertinya kurang begitu tertarik mendengar kisah si ibu.

Dia bercerita banyak hal, mulai dari mahalnya biaya hidup saat ini, sampai kondisi rumah tangganya, yang ternyata beliau adalah istri kedua dari suaminya. Dia tidak punya anak, namun istri pertama suaminya lah yang melahirkan anak yang sekarang harus dia asuh.

Gue tidak hendak menceritakan ulang kisah hidupnya, tapi ada satu hal yang menarik dari ceritanya.

Ternyata ibu itu adalah seorang pedagang yang berjualan di stasiun dan dalam kereta. Sedangkan ada peraturan yang melarang berdagang atau mengemis di kawasan khusus penumpang.

Suatu saat dia mengalami nasib kurang baik saat mencari nafkah. Para Petugas Pengamanan Khusus atau Pamsus yang juga mencari nafkah untuk keluarganya, sedang melakukan penertiban para pedagang dan pengemis yang berada di dalam kereta.

Ibu itu akhirnya tertangkap. Pamsus yang menangkapnya menanyakan kartu identitas (KTP) dan karcis untuk menumpang kereta itu. Untungnya ibu itu mempunyai keduanya. Namun, tetap saja dia berjualan di dalam kereta dan mengganggu ketertiban dan kenyamanan dalam perjalanan KRL.

Lalu apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahan itu? Beliau diminta membayar denda senilai 6 x harga tiket KRL Ekonomi AC, yaitu 6 x Rp 5.500. Jika tidak ingin membayar denda, maka ia harus menyerahkan barang dagangannya itu untuk disita petugas.

Gue baru saja mendengar ceritanya pagi itu saat gue berangkat kuliah. Lalu siangnya, gue melihatnya dengan mata kepala gue sendiri saat apa pedagang buah yang berusaha menghindar dari kejaran petugas Pamsus.

Kereta cukup lengang, suasananya tidak begitu riuh ramai. Sambil mendengar alunan musik dari earphone, gue berdiri dengan tenangnya. Tiba-tiba kaki gue terusik dengan aktivitas seseorang yang berusaha menaruh keranjang plastiknya yang kosong di bawah bangku penumpang. Dia terlihat sangat tergesa-gesa dan tidak tenang. Gue pikir dia itu pencopet karena berusaha membuat orang lain meresa terganggu. Gue perhatikan tampangnya, laki-laki itu tidak cukup bersih walaupun dia mengenakan kemeja dan celana jeans biru,  serta topi. Lalu dia berdiri di samping gue dengan penuh waspada.

Tak lama berselang, dua atau tiga orang petugas berseragam Pamsus berjalan di gerbong itu. Mereka tergesa-gesa pula sambil melihat keadaan sekitarnya dengan penuh selidik.

Saat gue berhasil memperoleh tempat duduk, yaitu di depan laki-laki bertopi itu, gue mulai memperhatikan gerak-geriknya. Dia terlihat agak gusar, walaupun terkadang dia senyum-senyum sendiri saat matanya berusaha untuk mencari keberadaan petugas yang baru saja lewat.

Lalu gue lihat di saku belakang celananya, terselip lembaran kantung plastik hitam. Sudah barang tentu, dia adalah seorang pedagang. Tapi yang gue masih bingung adalah keranjang yang dia taruh di bawah bangku penumpang itu kosong. Tidak ada barang dagangannya satupun.

Dia terus waspada, takut kalau masih ada petugas di sekitarnya. Saat dia pikir keadaan sudah aman untuknya, dia mulai mengeluarkan keranjang kosong di bawah bangku itu, dan dia beralih ke bawah bangku seberang, rupanya dia menyembunyikan buah jeruk dagangannya di sana. Lalu diapun pergi dengan membawa keranjang yang kini telah berisi jeruk itu ke gerbong lain yang berlawanan arah dengan petugas.

Coba dia tertangkap, gue pengen tau apa yang harus dia lakukan untuk menebus kesalahannya berjualan di kawasan khusus penumpang ini.

2 thoughts on “Petak Umpat di Kereta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s