Menanti Datangnya Kepastian

Menanti Datangnya Kepastian

Saat 3 tahun yang lalu, saya sangat bersyukur ketika melihat koran dengan barisan huruf dan angka yang luar biasa kecilnya, tertulis nama saya di halaman koran itu, beserta ratusan kawan-kawan peserta SPMB 2007 yang berhasil diterima di PTN negeri.

Tak berapa lama kemudian, masih di tahun yang sama, saya berdebar menunggu hasil ujian masuk yang lainnya, yaitu STAN. Saya belum melihat hasilnya, tapi saya sudah dengar tetang hasil yang saya dapatkan. Saya harus bertahan menjalani kuliah S1 Managemen saya di FE UI, Depok. Kampus Abu yang kini sudah sangat saya cintai.

Menjalani 4 bulan pertama di kampus ini, rasanya harus lebih banyak berusaha untuk menghadapi ujian, baik itu ujian tengah semester ataupun ujian akhir semester, karena persaingan di sini sangat lah ketat. Semuanya ingin menampilkan yang terbaik. Tak jarang saya kesulitan untuk mencari tempat belajar yang pas di kampus saat pekan ujian tiba. Semuanya penuh sesak dengan para mahasiswa, semuanya berisik, berdiskusi, padahal mereka berada di ruang baca dengan tulisan “HARAP TENANG”, makanya kalau jadwal ujiannya siang, maka datanglah dari jam 8 pagi saat Perpus dibuka, kalau ujiannya jam 9 pagi, datanglah jam 8 pagi di hari sebelumnya agar mendapat tempat belajar yang enak.

Seminggu pertama UAS, rasanya tegang sekali menanti pengumuman nilai di siakNG. Hingga batas akhir pengumuman nilai, 3 buah angka dengan tanda koma (,) di belakang angka pertama itu terus saya pandangi. Terus saya lihat lagi, entah bangga atau apa, tapi yang jelas angka tetap, tidak berubah, saya pun tetap senang, tidak berubah.

Naik ke semester 2, rangkaian angka itu pun berubah. Saya pun berubah. Menjadi seseorang yang berpikiran lebih realistis lagi mengenai nilai. Dengan usaha yang segitu kok mau dapet nilai segitu? Ya, gak bisa tok!

Lalu,  di bulan Januari tahun 2008, saya mendengar kabar bahwa ada kesempatan beasiswa dari salah satu yayasan di Indonesia. Saya coba apply, ada 3 tahapan tes yang harus saya lalui untuk bisa menandatangani kontrak beasiswa. Lamanya proses itu memakan waktu lebih dari 6 bulan. Saat pengumuman tiba, dengan hati yang penuh ketegangan, saya mendownload file pdf tentang pengumuman beasiswa tersebut, satu per satu halaman dalam file itu saya perhatikan baik-baik, hingga akhirnya saya menemukan nama saya terpajang dengan manisnya. Penantian yang berbuah manis.

Tidak hanya itu, saat saya beserta kawan lainnya yang tergabung dalam aliansi kupingpanas yang menghendaki adanya perubahan signifikan dalam sistem orientasi di kampus ini, di akhir tahun ketiga saya menjadi mahasiswa saya harus menghadapi kondisi bidding untuk kali pertama. Tidak tanggung-tanggung, kami dibidding selama 20 jam! Dari matahari terang, hingga bulan bersinar, sampai fajar menyingsing, dan mentari muncul lagi, kami masih dengan pakaian almamater yang kami banggakan, kami masih dengan semangat yang sama, namun fisik kami sudah kelelahan.

Dan saya harus mengalami kegagalan untuk kesekian kalinya dalam hidup. Tim kami juara 2 dari 2 peserta yang ikut serta.

Lupakan sejenak tentang berita buruk itu. Kini, di akhir semester 6 saya kuliah di FEUI, saya terus merasa khawatir dengan nilai akhir yang saya raih di setiap semesternya. Karena beasiswa yang saya dapatkan menuntut saya untuk mempertahankan IP setiap semster di atas 3,25. Saya selalu khawatir takut-takut kalau IP saya tidak mencapai angka tersebut.

Kekhawatiran itu kini datang lagi, menyelimuti hari-hari usai UAS di kampus Abu… Menanti datangnya suatu kepastian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s