One Of Universal Language: Football

One Of Universal Language: Football

Menyaksikan upacara pembukaan Piala Dunia 2010 di Johannesburg, Afrika Selatan kemarin membuat gue cukup berdecak kagum akan segala hal yang telah mereka sajikan. Walaupun mungkin ada beberapa yang berpendapat bahwa peringatan 100 tahun kebangkitan bangsa Indonesia tahun 2008 lalu masih lebih meriah dibandingkan pagelaran di Benua Hitam tersebut, namun selalu ada yang mengesankan.

Dari pembukaan pesta sepak bola dunia 4 tahunan itu, gue melihat banyak hal dan meyakini ada begitu banyak cerita yang dapat dibagikan pada seluruh warga dunia yang menyaksikannya dan yang menikmatinya. Banyak hal tentang heterogenitas yang ada di dunia ini.

Tarian pembuka menawarkan banyak warna. Pada saat para penari menunjukkan tarian khas dari Afrika, gue melihat bukan hanya remaja saja yang turut berpartisipasi, ada juga anak-anak bahkan sampai ibu-ibu yang gerakannya sudah tidak lincah lagi juga turut serta memeriahkan pesta tersebut.

Betapa indahnya sepak bola, seluruh generasi keluarga dapat menikmatinya. Tayangan untuk semua usia.

Para pengisi acarapun tak hanya mereka yang berkulit hitam saja, tapi juga ada dari mereka yang berkulit putih. No more apartheid in this world. Bahkan kalau kita melihat lebih luas ke bangku penonton, rasanya seluruh ras di dunia, mulai dari pemain drama Korea, Bollywood, Hollywood, sampai pemain Telenovela dan lainnya, tampang-tampangnya udah terwakilkan di situ! Mereka berkumpul di satu tempat yang sama untuk menyaksikan suatu hal yang luar biasa mengesankannya, sepak bola.

Kawan, inilah yang disebut dengan event akbar dunia. Di mana semua dibuat terkesan, walau bahasa yang digunakan berbeda, walau budaya yang disajikan berbeda, walaupun kita tidak mengerti maksudnya, namun kita dapat merasakan gegap gempitanya, kita dapat menikmati sensasinya.

Sepak bola, itulah yang menyatukan kita.

Tidak peduli kaya atau miskin, bekerja atau menganggur, bahkan tidak peduli siang atau malam, saat kita menyaksikan satu bola yang diperebutkan oleh 22 pemain di lapangan hijau, dengan seragamnya yang berbeda-beda, dengan kemahirannya memainkan bola, atau bahasa Tsubasa-nya “berteman dengan bola”, kita bisa berteriak berbarengan, bersedih bersama saat tim yang kita dukung mengalami kekalahan, atau kita bisa girang dan bahagia berbarengan dengan mereka yang timnya memenangkan pertandingan.

Sepak bola membuat gue lebih memahami dunia ini dengan seluruh keberagaman yang dimilikinya.

Tapi sayangnya, sepak bola juga terkadang membuat kita bertentangan, saling berdebat, bahkan sampai tawuran atau bentrok fisik. Karena rasa kecewa atas kekalahan tim favoritnya. Atau pun karena rasa gembira yang terlalu berlebihan hingga cenderung merendahkan mereka yang kalah.

Sepak bola sebenarnya bisa menjadi jalan untuk kita saling mengerti satu sama lain, bukan saling menuduh dan gontok-gontokan. Lihat saja bangku penonton saat sedang membuat “ombak”. Semua didasari oleh satu rasa saling mengerti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s