Ayang-Ayangku

Ayang-Ayangku

Nama lengkapnya Andri Fadillah Alamsyah. Lahir di Bogor, pada 15 April 2002. Sekarang dia masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 2. Ya, dia adalah salah satu adik laki-laki saya.

Ayang adalah sapaan akrabnya, bahkan waktu usianya masih batita, dengan wajahnya yang agak oriental dan kulitnya yang putih mulus tanpa noda, setiap ada yang tanya namanya, dia pasti langsung bilang, “Ayang.” Sambil tersenyum-senyum tersipu malu.

Kini dia telah tumbuh menjadi seorang anak yang gemar sekali bermain di luar rumah dan hobi sekali menghabiskan uang orang tua untuk dipakai jajan.

Perubahan fisik jelas sekali terjadi padanya. Tidak ada lagi tampang oriental, walaupun matanya memang masih saja kecil, namun kulitnya kini sudah jauh menghitam. Gelap. *Kalau gue, emang dari lahir udah gelap*

Walaupun Ayang rajin sekali jajan, namun badannya tetap saja kurus. Di rumah, susah sekali untuk disuruh makan, maunya minum susu saja. Bangun tidur langsung teriak SUSU!!! Mau tidur pun segera teriak SUSU!!! Baru beberapa detik berlalu dari teriakannya, dia kembali berteriak lagi SUSU! LAMA BANGET SIH!!

Berbeda dengan saya yang rajin sekali, Ayang justru sulit sekali diminta untuk belajar. Setiap pagi setelah minum susu dengan botol dot-nya, dia langsung duduk di depan layar TV, dan seketika itu pula Liputan6 Pagi berubah menjadi Spongebob. Atau Tom and Jerry. Atau tontonan cartoon lainnya. Sehingga Ayang betah sekali berlama-lama di depan kartun kesayangannya dan sulit sekali disuruh mandi untuk persiapan ke sekolah! Sungguh, merupakan ide yang sangat buruk untuk menayangkan kartun di pagi hari.

Setiap malam, sepulangnya Ayang dari mengaji, itu adalah jadwal dia untuk belajar melancarkan kemampuan membacanya di rumah. Tidak jarang gue yang harus membantu menemaninya belajar membaca. Dan dia sering kali malas untuk belajar malam, alasannya adalah “Ayang ngantuk banget, tauk!”

Sumpah, seringkali Ayang itu tengil banget dan menyebalkan. Namun, ada beberapa hal yang membuat gue tidak bisa menahan tawa bila telah berbincang dengannya.

Beberapa tahun lalu, gue sedang ada di kamar mandi untuk mencuci tangan. Ayang yang belum duduk di bangku sekolah waktu itu tiba-tiba masuk ke ruang itu dengan membawa selembar klise foto. Gue pun bertanya, “Ayang mau ngapain?”

Dengan santainya disertakan dengan senyum yang merekah di wajahnya, dia menjawab, “Mau cuci foto!” Tangan kanannya kemudian menyediakan segayung air dan siap-siap untuk memasukkan lembar klise itu ke dalamnya.

Gue yang melihatnya sontak kaget. “Eh, mau dicuci gimana?” Sambil gue rebut klise tersebut dari tangannya.

“Kan kalo mau ngeliat fotonya mesti dicuci dulu katanya!” Jawab Ayang dengan lugunya.

Aduh, ajaran dari mana ini? Bener sih, mesti dicuci dulu. Tapi kan gak dengan air biasa dan di kamar mandi begini! Ayang-Ayang..

Hal berikutnya yang gak kalah serunya adalah saat Piala Dunia 2010 ini. Suatu hari gue pernah menunjukkan wallpaper ponsel gue ke dia. Wallpapernya adalah Miroslav Klose yang sedang berfoto dengan gue. *Tata bahasa yang menyenangkan, hehe*

Lalu dia pun bertanya, “Ini pacar Mbak Ira, ya?”

Gue pun menjawab dengan penuh percaya diri, “Iya dong! Pemain bola, Yang! Dari Jerman! Keren, kan?”

Ayang hanya tersenyum-senyum bangga, karena punya kakak cantik yang berpacarkan seorang tampan bernama Klose.

Suatu ketika gue dan Ayang menonton tayangan ulang pertandingan antara Jerman melawan Australia di TV, siang itu sepulang sekolah Ayang minta bola ke gue. Ayang bilang, “Mbak Ira, mintain bola dong satu untuk Ayang dari pacar Mbak Ira!”

“Iya, nanti ya Ia telepon dia dulu,” ucap gue dengan santainya.

Lalu siang ini dia kembali meminta hal yang sama pada gue. Ayang minta dibawain bola yang ada di Piala Dunia itu.

“Pacarnya Mbak Ira beneran punya banyak kan, bolanya? Ayang minta dong, satu aja!” pinta Ayang sambil tersenyum manis penuh rayuan.

“Oh, iya. Tenang, Yang! Nanti Ia SMS dulu ya, dia! Nanti Ia langsung minta dia untuk kirimin satu bolanya untuk Ayang!” Jawab gue dengan senyum maut khas seorang pembohong amatir.

Kemudian Ayang rupanya mulai membaca tanda-tanda kebohongan gue. Dengan wajah yang agak mencibir, dia berkata, “Mbak Ira bohong, ya?”

Gue tidak mengeluarkan sepatah katapun, hanya tetap tersenyum khas seorang pembohong amatir yang tidak khawatir kalau kebohongannya terungkap di depan orang lain.

Kemudian Ayang melanjutkan kata-katanya, “Pacar Mbak Ira gak punya banyak kan bolanya? Dia cuma punya satu aja?”

Mendengar kata-kata itu, gue bukan tersenyum lagi. Bukan cengar-cengir lagi. Tapi ngakak sengakak-ngakaknya! Sampe puas gue ketawa! Dan Ayang cuma cengar-cengir ngeliat tingkah kakaknya yang baik hati ini.

Dia sudah berusia 8 tahun. Kesukaannya terhadap sepak bola memang belum separah orang dewasa. Tapi dia bisa menyanyikan yel-yel untuk mendukung Persib, Arema, atau Persija. Dulu dia suka Bambang Pamungkas dari Persija, tapi beberapa bulan belakangan dia lebih suka dengan Persib, Maung Bandung. Sambil mengacungkan jari kelingking dan telunjuknya, dia berteriak, “Viking!”

Ayang… Ayang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s