Harapan Itu Tetap Ada

Harapan Itu Tetap Ada

Pertandingan yang berlangsung di Durban, Afrika Selatan di hari Rabu, 7 Juli 2010 waktu setempat atau hari Kamis, 8 Juli 2010 dini hari waktu Indonesia yang mempertemukan dua tim besar sepak bola Eropa, yakni Jerman dan Spanyol akhirnya dimenangkan oleh Spanyol dengan skor 0-1.

Jerman adalah tim favorit gue. Sejak Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang, gue selalu membanggakan Klose dan kawan-kawan. Kebanggaan gue akan mereka pada Piala Dunia tahun 2010 ini semakin meningkat seiring dengan kemampuan Der Panzer menaklukkan Inggris dan Argentina dengan skor yang tidak kecil. Produktivitas mereka dalam mencetak gol merupakan buah dari kerja sama yang indah dan sangat solid dari semua lini di lapangan hijau.

Jika dibandingkan dengan Jerman, Spanyol sendiri bisa dikatakan kurang produktif dalam mencetak gol. Namun, kerja sama timnya memang patut diacungi jempol. Dari seluruh pertandingan yang mereka ikuti, David Villa dan kawan-kawan selaludapat menguasai bola. Perpindahan bola dari satu pemain ke pemain lain sungguh hampir sempurna. Umpan-umpan pendek mereka dan kelihaian para pemainnya sungguh sangat luar biasa.

Dengan bertumpu pada kekuatan tim, Jerman dan Spanyol telah mengukir prestasinya sendiri yang membanggakan.

Namun, apa daya, impian gue untuk melihat Belanda bertarung dengan Jerman di partai final tahun ini tidak menjadi kenyataan. Spanyol sangat menguasai permainan dibandingkan Jerman yang tampil tanpa Thomas Mueller, karena skorsing akumulasi kartu kuning. Banyak sekali peluang dan tembakan ke gawang yang dilakukan oleh Spanyol, tidak demikian dengan Jerman. Hingga akhirnya pada menit ke-73, sepak pojok dari tim Spanyol yang kemudian berbuah gol karena tandukan Carles Puyol, seorang pemain bertahan Spanyol.

Setelah peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi nyaring, harapan timnas Jerman untuk melangkah ke partai final pun sirna begitu saja. Begitu juga dengan harapan gue.

Wajah Schweinteiger pun terlihat sangat sedih dan kecewa. Dia sudah bermain dengan baik selama piala dunia ini. Gue sedih melihat mereka sedih. Gue kecewa dengan hasilnya. Tapi, apa yang bisa gue perbuat dari sini? Dari kota Bogor, Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer menuju Durban, Afrika Selatan.

Walau begitu, ada pelajaran besar yang bisa kita ambil dari hasil ini. Jerman yang sebelumnya sudah dijagokan dan menang habis-habisan melawan Inggris dan Argentina dengan mencetak 4 gol, dan Spanyol yang hanya bisa bermain dengan hasil satu gol di setiap pertandingan melawan Portugal dan Paraguay. Memang mereka sama-sama dijagokan, namun Spanyol bisa bermain konsisten dari setiap pertandingannya, walaupun hanya mampu mencetak 1 gol saja. Mungkin, Jerman justru telah mencapai klimaksnya pada pertandingan melawan Argentina yang dipermalukan dengan 4 gol tanpa balas. Inilah pelajaran itu. Konsistensi. Kestabilan. Istilah agamanya, mungkin Istiqomah.

Kita bisa mencapai tujuan kita dan target kita, jika kita mau berusaha dan konsisten akan usaha kita itu. Tetap mempertahankan kondisi tubuh dan tidak putus asa. Apapun yang orang lain katakan pada kita, tetap kita harus fokus pada tujuan kita sebenarnya.

Gue, sebagai seorang pencinta sepak bola Jerman, dengan penuh kesabaran dan keberanian diri mengucapkan, “Congratulations, Spain! Be the World cup champion then!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s