Pintu Ajaib

Pintu Ajaib

Ketika banyak orang sangat membenci pengandaian, gue justru sekarang sedang ingin berandai-andai. Jadi, mari kita berandai-andai!

Seandainya di dunia fana ini benar-benar ada makhluk penuh pesona bernama Doraemon disertai dengan kantong ajaibnya, tentu kehidupan manusia menjadi lebih mudah dan menyenangkan lagi. Semua menjadi lebih efisien. Lebih terasa nyaman dan sungguh praktis dan gampang. Tinggal bilang, “bla-bla-bla ajaib” sambil mengeluarkan “bla-bla-bla”nya dari dalam kantong putih setengah lingkaran itu, maka “kunfayakun!” Jadi, maka jadilah…

Namun, pasti ada ketidaksempurnaan dari segala macam hal yang indah di dunia ini. Kalau pun Kantong ajaib Doraemon itu nyata adanya, pasti ada keterbatasan dari si benda ajaib itu. Seperti konsep ekonomi yang gue pelajari dari jaman SMP, SMA, serta jaman gue kuliah sekarang. Masalah inti ekonomi yang selalu menyertai setiap langkah manusia adalah “scarcity” atau kelangkaan. Di mana kebutuhan kita itu lebih banyak (>) daripada alat pemuas kebutuhan itu sendiri. Kita punya keinginan banyak sekali, namun sumber daya yang kita miliki tidak dapat mencukupi semua itu.

Mari kita mulai menceritakan batasan-batasannya itu…

Doraemon memang ada, namun hanya ada satu di dunia ini. Sehingga tidak semua manusia yang memimpikan dapat memilikinya itu, dapat memilikinya. Karena takut berlaku tidak adil, dan menimbulkan kecemburuan sosial, Doraemon memutuskan untuk tidak mengabdikan dirinya pada satu orang saja. *Jadi, dia tidak mau menjadi budak seorang bocah yang sudah 10 tahun lebih, namun masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu.

Namun, tingginya demand atau permintaan manusia akan kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan oleh alat-alat ajaib dari kantongnya itu memaksa Doraemon untuk bersedia menyediakan alat-alat ajaib itu kepada para manusia yang ingin serba mudah dan cepat ini. Sehingga isi seluruh kantong ajaibnya dikuras habis untuk kemudian dibagikan pada manusia yang paling membutuhkannya. Misalnya saja, seseorang yang ingin meneliti kehidupan semut dan serangga-serangga lainnya, maka Doraemon akan memberikan “Senter Pengecil” kepadanya. Sedangkan untuk seseorang seperti gue yang sangat gemar traveling apalagi berkeliling dunia untuk semakin mencintai dan mensyukuri penciptaan Tuhan, namun ada keterbatasan dana, sehingga Doraemon dengan penuh kesenangan hati memberikan “Pintu Kemana Saja” untuk gue.

Gue pun senang. Tapi akan selalu ada seseorang yang tidak senang ketika melihat orang lain senang. Karena yang gemar traveling di dunia ini bukan hanya gue seorang, jadi banyaklah muncul para dengki-ers dengki-ers, yang iri akan keberuntungan gue. Karena hanya ada satu Doraemon, maka hanya ada satu Kantong Ajaib pula. Walaupun ada kantong ajaib cadangan, Doraemon tidak akan menggunakannya untuk dibagikan pada manusia. Dia sendirilah yang akan menggunakannya untuk mengawasi penggunaan alat-alat ajaibnya oleh manusia.

Ada peluang di tengah keterbatasan…

Melihat begitu banyak orang yang merasa iri dengan kebahagiaan gue memiliki “Pintu Kemana Saja” ini, gue pun dengan jeli melihat peluang usaha yang sangat terbuka lebar. Dengan nekat dan tekad yang keras, gue pun memulai bisnis gue dengan membuka jasa transportasi dengan judul “Pintu Ajaib” yang berlokasi di sebuah kios kecil di Kota Bogor. Tagline yang bisnis gue jalankan ini berbunyi, “Mengantar Anda kemana saja dalam sekejap mata!”

Gue mulai membuat video untuk memasarkan bisnis gue ini. Gue bikin akun di berbagai media jejaring sosial, seperti facebook, twitter, dan juga gue pasarkan lewat kaskus. Sungguh luar biasa, hanya dalam waktu kurang dari satu pekan saja, email “Pintu Ajaib” penuh dengan berbagai macam permintaan manusia yang ingin memakai jasa transportasi khusus ini.

Banyak yang ingin di antar ke Jepang, Jerman, Sorong, Yogyakarta, Bali, ataupun Capetown. Bahkan ada yang dengan gilanya meminta untuk diantarkan ke Surga, karena rindu dengan Ayah dan Ibunya. Jelas saja permintaan ke Surga ini gue tolak. Bukannya apa-apa, gue cuma takut mengecewakan dia sebagai salah satu pelanggan gue. Takutnya, sesampainya di surga, dia malah gak ketemu sama Ayah dan Ibunya karena mereka masih sibuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh malaikat di alam kubur sana. Jadi lebih baik gue tolak saja.

Untuk memenuhi permintaan para calon pelanggan yang lainnya, gue pun menetapkan tariff yang harus dibayarkan oleh mereka. Ada tariff jasa transportasi dalam Kota, luar-Kota, luar-Provinsi, lintas-Pulau, luar-Regional, bahkan lintas-Samudera. Tarifnya sendiri beragam. Mulai dari Rp 2.000 untuk para pelajar dalam Kota, hingga Rp 10.000.000 untuk dewasa lintas-Samudera. Tariff ini termasuk murah dibandingkan dengan jasa transportasi udara yang bisa mahal sekali dan memakan waktu yang lama dalam sekali perjalanan.

Minggu pertama, Minggu kedua, Minggu ketiga, hingga satu bulan berjalan bisnis gue luar biasa sukses! Semuanya menikmati. Hingga suatu hari ada sebuah telepon internasional masuk ke kios gue. Beliau adalah salah satu pelanggan yang menggunakan jasa “Pintu Ajaib” gue. Dia menelpon jauh-jauh dari Cape Town, Afrika Selatan. Dia bilang, uangnya sudah habis untuk hidup selama satu bulan di sana, dan kini dia bingung tak punya uang untuk pulang. Dia pun meminta gue untuk membawanya kembali ke Indonesia dengan selamat.

Hari berikutnya telepon yang lain mulai berdatangan. Ada yang berasal dari Paris, hingga Amazon. Semuanya menuntut untuk bisa kembali ke Indonesia karena kehabisan uang untuk ongkos pulang melalui pesawat terbang.

Tapi, bagaimana caranya?? Pintu Kemana Saja hanya ada satu di dunia ini, dan itu letaknya ada di kios kecil gue di daerah Bogor. Sedangkan gue sendiri gak bisa membawanya ke tempat lain yang jauh-jauh. Doraemon bisa melakukannya karena dia punya kantong ajaib yang bisa memuat besarnya Pintu Ajaib. Tapi gue???

Tidak semua yang instan dan mudah membawa kebahagiaan

Keterbatasan ini membuat gue harus menjelajah dunia maya untuk mencari manusia yang dianugerahi “Alat duplikasi apa saja” oleh Doraemon. Saat gue googling, ternyata baru-baru ini alat ajaib tersebut telah ditarik oleh Doraemon karena diduga sang mpunya alat ajaib itu telah melanggar hak cipta.

Gue mulai habis akal. Bingung harus diapakan lagi bisnis gue ini yang lama-kelamaan mulai menuai banyak kritikan dan keluhan. Sesuai dengan tagline yang bisnis gue pegang teguh, “Mengantar Anda ke mana saja dalam sekejap mata!” bukanlah “Menjemput Anda dari mana saja ke tempat asal di Bogor!”

Kekacauan mulai terjadi di dunia ini. Bukan hanya dari Pintu Ajaib yang gue kelola, namun juga dari para pengguna alat-alat ajaib Doraemon lainnya yang bertebaran di dunia ini. Si peneliti yang dianugerahi Senter Pengecil, kini terperangkap dalam tubuh kecilnya, dan tidak bisa kembali ke kondisi semula karena tidak ada Senter Pembesar. Demikian juga yang sebaliknya. Mereka yang dihadiahi lorong waktu, terperangkap dalam mesin waktu dan kini entah ada di jaman Pangerangan Diponegoro atau Adolf Hitler atau jangan-jangan malah ada di jaman batu.

Setiap keluarga yang ditinggalkan oleh anggota keluarganya sebagai korban dari keajaiban alat ajaib Doraemon, kini tengah sibuk mempersiapkan demonstrasi besar-besaran di setiap kota besar se-Jagad raya. Bahkan sudah ada “Gerakan 1 Juta Facebookers Menuntut Doraemon.”

Akibatnya, Doraemon yang selama ini selalu dielu-elukan oleh para manusia, justru kini malah dihina-dina, dicaci-maki, dibenci, dan dicerca. Seolah-olah jasa puluhan tahun harus dinodai oleh dosa satu hari saja. Kini seluruh alat yang Doraemon telah bagikan pada manusia di Dunia akhirnya ditarik kembali. Gue pun dengan berat hati harus menutup bisnis gue yang sangat menjanjikan dan menguasai pasar industri transportasi tersebut. Mereka yang hilang berusaha untuk ditemukan lagi oleh Doraemon.

Sungguh telah sempurna Tuhan menciptakan langit dan bumi ini. Menciptakan manusia dan alam semesta dengan segala keterbatasannya. Seperti yang pelajaran Ekonomi telah bagikan pada gue, dengan adanya keterbatasan alat pemuas kebutuhan manusia itu menjadikan kita harus menentukan pilihan mana yang terbaik untuk kita dengan mempertimbangkan opportunity cost yang ada. Keterbatasan dalam hidup ini justru membuat manusia menjadi lebih bijaksana dalam menentukan pilihan. Membuat kita lebih menghargai hidup, karena ada usaha yang cukup keras untuk menjalaninya.

Dan gue semakin yakin sekarang kenapa Tuhan tidak menciptakan makhluk seperti Doraemon untuk manusianya. Agar kita bisa naik kelas.

2 thoughts on “Pintu Ajaib

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s