Better! Not Easier.

Better! Not Easier.

tidak ada kata MUDAH dalam kehidupan seorang dewasa

Gue lupa tepatnya kalimat tersebut dilontarkan oleh siapa dalam film apa. Seingat gue, kata-kata itu diucapkan oleh aktor Hollywood favorit gue, Nicolas Cage.

Entah kenapa, gue merasa bahwa kalimat itu benar adanya.

Dulu, waktu kita kecil. Waktu masih TK misalnya, gue pernah nangis gara-gara bapak gue pergi gitu aja di sore hari waktu gue lagi latihan nari bareng temen-temen di sekolah. Gak taunya, bapak lagi nunggu di luar sekolah. Hal sekecil itu aja bikin gue nangis.

Atau waktu gue duduk di bangku Sekolah Dasar, gue pernah ngerasa iri banget dengan temen gue, bukan gara-gara dia lebih cantik dari gue, atau lebih pintar, tapi gara-gara gue ngerasa kalau dia mirip artis yang waktu jaman itu lagi gue suka.

Saat gue berseragam putih-biru, gue bete dengan temen sekelas gue yang jadian sama anak kelas sebelah yang lumayan ganteng, padahal dia itu udah tau kalau gue suka sama si tetangga sebelah itu.

Banyak hal yang sebenernya sepele dalam perjalanan hidup gue di  masa kanak-kanak dan remaja jika dipandang dengan kacamata gue di usia berkepala dua ini. Istilah yang tepat mungkin “labil”. Ya, masa-masa labil.

Seiring dengan berjalannya waktu, keinginan gue pun mulai menanjak. Bukan lagi keinginan untuk ditemenin orang tua untuk waktu latihan nari, atau keinginan untuk mirip dengan artis idola, atau keinginan untuk punya pacar yang tampan.

Kini gue justru mulai bermimpi untuk bisa nemenin orang tua gue pergi ke Mekkah, Madinah, untuk menunaikan rukun Islam kelima. Gue mulai berkeinginan untuk bisa jalan-jalan keliling Indonesia bahkan dunia, biar kayak artis-artis di acara wisata yang ditayangin TV. Gue juga berkeinginan untuk punya pacar yang tidak hanya tampan tampilannya, tapi juga tampan hati dan perilakunya.

Dan tidak ada istilah mudah untuk membuat semua itu menjadi kenyataan. Akan selalu ada hambatan, kendala, atau rintangan untuk mencapai semua impian dan keinginan itu. Gue gak bisa lagi pakai senjata merengek sama orang tua untuk membuat semua itu menjadi nyata. Gue gak bisa hanya diam dan membangun mimpi gue itu dalam dunia ghaib yang gak ada hasilnya. Gue tau, gue harus melakukan sesuatu!

Tapi, apakah sesuatu itu? Untuk menentukannya saja agak sulit bagi gue. Gue butuh fondasi. Supaya mimpi gue itu berdiri dengan kuat di atas tanah kenyataan. Gue perlu iman. Kepercayaan. Tuhan. Dan lima bagian dari enam rukun iman yang gue pelajari dari SD dulu. Gue butuh karena gue gak akan bisa jadi single fighter dalam membangun istana impian gue ini. Gue gak bisa jadi arsitek sekaligus jadi kuli bangunannya. Gue butuh iman untuk berserah, tapi bukan berputus asa.

Kemudian, gue perlu tiang yang kuat dari baja untuk membentuk ruang seperti apa yang gue inginkan. Gue perlu keluarga untuk membentuk kepribadian gue. Untuk menguatkan segala mimpi gue. Untuk mendukung gue di saat apapun itu yang gue hadapi. Yang membesarkan gue, hinggague dewasa kini.

Gue perlu dinding yang terbuat dari batu bata berkualitas baik. Di sinilah pendidikan itu dibutuhkan. Untuk membatasi setiap ruang dalam istana impian gue. Namun, antar ruang itu selalu ada celah, selalu ada pintu, di mana semua bagian dalam istana tetap saling terhubung. Seperti pendidikan. Walaupun gue belajar di jurusan IPS,  gue tidak meninggalkan unsur alam. Tanah yang kita pijak, air yang kita teguk, udara yang kita hirup. Dan segala sesuatu di bumi ini pasti mengandung ilmu yang bisa kita syukuri keberadaannya.

Di setiap dinding itu, gue menempelkan lukisan, memajang bingkai-bingkai foto, memasang cermin, menghiasi setiap ruang. Dan sahabat adalah cermin diri gue. Kadang gue suka bicara sendiri di depan cermin, bertanya, kadang terjawab oleh pantulan diri gue di cermin itu, kadang juga tidak. tetap menjadi tanda tanya. Dan sahabat dapat memberikan jawaban, bahkan saat pertanyaan itu belum terlontar.

Lalu dibangunlah langit-langit, dan atap yang cantik terlihat dari taman tetangga sebelah. Atap yang melindungi bagian dalam istana agar tetap terjaga dan terpelihara dengan baik. Dan Tuhan adalah Pelindung terbaik yang dimiliki oleh setiap makhluknya di dunia ini. Semua yang berasal dari-Nya akan kembali pada-Nya. Setiap kali gue melihat ke atas, memandang mimpi-mimpi yang gue gantungkan pada langit-langit istana impian hidup gue yang paling tinggi, gue harus selalu ingat, bahwa Tuhan-lah yang dapat mengizinkannya menjadi nyata.

Tidak mudah memang untuk membuat impian seorang dewasa ini menjadi nyata. Akan selalu ada badai, hujan, petir yang menggelegar, panas yang begitu menyengat, atau risiko kebakaran yang mengancam. Karena kita tidak bisa meminta agar segala sesuatunya menjadi lebih mudah, tapi justru kita-lah yang harus menjadi lebih baik agar yang tidak mudah itu dapat kita lalui dengan baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s