Kecamuk di Kota Pahlawan (part.3)

Kecamuk di Kota Pahlawan (part.3)

Kompetisi pun dimulai dengan segala hal dan peraturan yang mendadak dari panitia.

Tanggal 6 September 2010, di mana gue seharusnya berada di dalam kelas Manajemen Treasuri beserta Ibu Arietta, gue justru harus menghadapi kompetisi paling aneh di dunia yang pernah gue ikuti yang kebetulan diadakan di Kota Pahlawan, Surabaya.

Di lantai 3 gedung kuliah Teknik Informatika ITS, Surabaya gue memasuki ruangan lomba yang telah disiapkan oleh panitia.

Sekitar 5 menit sebelum lomba dimulai, gue bertanya pada panitia dimana letak toiletnya, kemudian panitia yang sama seperti saat di technical meeting kemarin pun menjawab bahwa Toiletnya ada di lantai bawah.

Gue pun yang memang awam dengan lingkungan kampus yang luar biasa panas ini, menurutinya untuk ke lantai bawah, sesampainya dilantai 2, gue bertanya pada bapak-bapak yang berpakaian seperti panitia, di mana letak toilet terdekat. Beliaupun dengan senyum menjawab, “Di ujung sana ada toilet!” Jawabnya sambil menunjukkan  di mana arahnya. Kemudian beliau menambahkan, “Di lantai 3 juga ada kok toiletnya!” Okey, panitia macam apa yang gak tau di mana letak toilet terdekat???!!! *masih sakit hati oleh peraturan panitia kemarin*

Saat pertandingan hendak dimulai, rupanya kalkulator yang diperbolehkan hanya 1 saja untuk 1 kelompok! Okey, dan kawan gue, Ricky sudah beli kalkulator baru! Peraturan macam apa lag inii???

Saat mengerjakan permainan bisnis ini, gue dan Ricky menemukan banyak kesulitan. Selain karena kami terbiasa latihan dengan menggunakan program excel, kami juga kesulitan karena hanya mengerjakan semua itu berdua saja, hingga kontrol satu dan lainnya sulit dilakukan dan proses pengerjaannyapun menjadi memakan waktu yang jauh lebih lama.

Hingga banyak penalty yang kami peroleh, karena gagal memenuhi order, gagal menjaga kapasitas gudang, serta ada 2 hari terakhir yang tidak sempat kami input data keputusannya karena habis waktu.

Gue tersenyum, gue bahkan tertawa. Hanya sekedar menyiapkan diri untuk tidak begitu terluka saat mengetahui kenyataan bahwa kami harus gagal.

Gue sudah mempertimbangkan mau bagaimana nanti, apa yang akan gue lakukan. Apakah tetap bersama teman-teman dari UI yang lain dan pulang ke Depok pada hari Jumat siang, dengan harus merelakan kehilangan kesempatan untuk menyaksikan pertandingan mahadahsyat antara Jerman melawan Turki untuk kualifikasi Euro 2012, atau memilih untuk pulang lebih dahulu dengan memesan tiket pesawat, dengan harus merelakan sejumlah uang untuk membeli tiketnya.

Waktu menuju pengumuman pun semakin tipis, setipis harapan gue akan lolos ke babak berikutnya. Benar saja, tim kami tidak lolos. Begitu pun dengan timnya Desta, Ivan dan April. Gue hanya mampu menyemangati rekan-rekan satu UI kami yang lolos ke babak berikutnya dengan penuh kelapangan dada.

Ternyata, banyaknya pengalaman gagal yang pernah gue alami tidak bisa membuat sistem imunitas gue terhadap kegagalan itu meningkat. Gue tetap tidak kebal terhadap rasa sakit itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s