Kecamuk di Kota Pahlawan (part.4)

Kecamuk di Kota Pahlawan (part.4)

Untuk seorang gue, kegagalan adalah hal yang biasa. Gue selalu berusaha menyemangati diri gue sendiri dengan kata-kata, “bukan seberapa sering kamu jatuh, tapi sesering apakah kamu bangkit dari jatuh itu”.

Tapi, quote itu hanya sebatas kata. Gak lebih dari sekedar rangkaian huruf dan untaian kata-kata indah. Tapi bagi gue, maknanya masih sulit untuk diamalkan. Jatuh itu, rasanya menyakitkan dan tentu saja memalukan. Rasanya hanya ingin menghilang dari muka bumi ini untuk sejenak. Tidak ada lagi janji yang bisa gue tepati untuk teman-teman di UI Depok. Semangat dari mereka, doa, dan segala pengertian karena gue harus bolos kelas, padahal ada presentasi besok pagi! Gak ada kabar baik yang bisa gue sebarkan, gak ada medali satu pun yang bisa gue banggakan untuk orang tua gue, untuk Pak Zalmi yang udah ngebantu tim kami hingga sejauh ini. Berat rasanya harus pulang dengan tangan hampa. Berat rasanya! Bahkan saat tangan kita tidak membawa apapun! Berat rasanya! Saat tangan ini hampa.

Tuhan, mata ini sudah berkaca-kaca. Pukul 2.25 waktu laptop gue saat ini. Di hari yang baru ini, di tanggal 7 Oktober 2010, bertempat di kamar nomor 718 Wisma Stiesia, Surabaya, gue gak bisa lagi menahan kekecewaan ini.

Gagal itu menyakitkan kawan. Sangat menyakitkan.

Segala usaha, susah payah, perjalanan jauh selama 20 jam dari Depok, Jawa Barat-Surabaya, Jawa Timur, segala jatah bolos kuliah kelas dosen, dan segala bolos kelas asistensi, segala kegiatan malem di rumah dengan Arfian yang sudah otak-atik alfalink gue, handphone, atau kadang buka-buka laptop gue yang gak nyala. Berapa banyak Opportunity cost gue untuk hal ini? Untuk kompetisi super aneh dan super dadakan seperti ini? Untuk tangan yang hampa ini?

Namun, gue beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang baru gue kenal ini. Kegagalan yang kami alami bersama, justru semakin meningkatkan hubungan kami. Tidak hanya sekadar saling menyapa nama saja, tidak hanya sekedar add friend di faceboook, tapi juga jalan-jalan hingga tengah malam hanya untuk mencari makanan enak khas Surabaya. Atau hanya sekadar untuk singgah di Indomaret 24 jam yang letaknya tidak jauh dari wisma kami berada. Namun, hal ini semua membuat gue semakin merasa dekat dengan mereka.

jangan berakhir, aku tak ingin berakhir… satu jam saja, ku ingin diam berdua, mengenang yang pernah ada

Berdua, hanya ada gue dan sekumpulan mereka. Gue merasa tidak hanya bayangan yang menemani gue saat gue sedang berduka. Tapi gue masih punya mereka. Yang baru gue kenal 2 hari terakhir ini.Tertawa, bercanda, dan segala kekonyolan yang gue alami bersama mereka.

Kegagalan itu, rasanya menyakitkan. Tapi, kalau kita punya obatnya, kenapa harus terus-menerus berlarut dalam kepedihan?

Oh, aku tak ingin terus terbelenggu… dengan pikiran tak menentu… sungguh aku tak bisa!!!

2 thoughts on “Kecamuk di Kota Pahlawan (part.4)

  1. Kayaknya udah tau nih jawaban dari pertanyaan pas di angkot dari HOS ke Wisma, kenapa gw mau-maunya jadi tour guide `gadungan` hehe. Enak lho bikin kalian (dan gw juga tentunya) senang😀

    life is beautiful, jangan kelamaan ada di bawah bayang-bayang kesedihan dan kekecewaan.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s