Hanya Ingin Bercerita

Hanya Ingin Bercerita

Hampir seharian ini gue berdiskusi dengan temen gue di kampus, yaitu Badrul. Udah lama juga gue gak ngobrol sedemikian panjang dengan dia. Mulai dari iseng-iseng ngerjain soal tes IQ, sampai ngobrolin masalah yang selalu saja menjadi masalah untuk gue, dan menjadi suatu teori baru untuk Badrul.

Dalam perbincangan hangat di tengah suara dosen yang sedang mengajarkan tentang amortisasi goodwill di depan kelas, dia melontarkan pertanyaan pada gue, “Udah gak pernah ngeblog lagi, Ra?” Lalu gue pun  membantahnya. “Tapi postingan yang labil-labil udah jarang ada lagi! Tapi gue justru seneng bacanya!” lanjutnya. Entahlah pernyataan itu termasuk dalam pujian atau ujian. Yang terpenting adalah sejak saat itu gue bertekad untuk tidak membuat tulisan yang labil di cukuptau ini!

—-

Namun entah mengapa, rasanya sulit sekali untuk bisa membulatkan tekad itu. Karena menulis di blog seperti inilah adalah sarana yang paling tepat untuk seorang gue dalam menuangkan pemikiran dan perasaan gue untuk bisa dibagikan kepada orang lain. Walaupun mungkin seringkali terlihat seperti buku harian yang sudah layaknya menjadi koran harian karena bisa dengan mudah dibaca dan diakses orang lain. Namun sekali lagi, ini adalah cara gue yang paling mujarab untuk bisa sedikit mengurangi kegundahan hati atau kemumetan otak.

Dan sekarang adalah saatnya berlabil ria!

Apa yang hendak gue tulis berikut ini adalah sesuatu yang amat sangat bisa dikatakan labil sekali.

Saat ini gue hanya ingin bercerita.

Pacar, kamu mau denger cerita saya, kan?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s