Tafsir Mimpi

Tafsir Mimpi

Sebelumnnya gue mau memberitahu bahwa postingan gue yang ini bukanlah berarti macam-macam, atau semacam buku-buku primbon yang seringkali beredar di atas kereta rel listrik Bogor-Jakarta.

Postingan gue kali ini akan berbicara tentang tafsir mimpi! *lohhh??

Kalau kata orang “hidup itu bermula dari mimpi” semoga aja bukan mimpi ini yang dimaksud mereka untuk terjadi pada kehidupan gue.

Pada malam Jumat di kamar kosan yang sepi, gue ditemani dengan program excel yang berisikan simulasi portofolio, sambil televisi menyiarkan berbagai berita kriminal, mutilasi, dan hal-hal menyeramkan sebagianya di tayangan Buser, serta kawan gue Belle yang sudah tertidur lelap memasuki alam bawah sadarnya, jauh, jauh, dan jauh.

Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari lebih. Gue pun memutuskan untuk menutup notebook, dan memejamkan mata, bersiap untuk tidur. Tidak lupa, TV yang terang itu gue matikan.

Berdoa sudah gue lakukan. Tapi rasanya tidur pun masih jauh dari kenyataan. Gue hanya bisa memimpikan untuk bisa benar-benar tertidur nyenyak, namun, sekali lagi gue bilang, mimpi untuk bisa tidur lelap itu masih jauh dari kenyataan.

Sampai hingga pada saat di mana gue benar-benar merasa tertidur, namun dengan gambaran mimpi yang sungguh menyeramkan! Mimpi pertama gue adalah suasana hujan lebat, gue sedang berada di atas boncengan motor entah siapa yang mengendarainya, yang jelas di mimpi itu gue menggunakan payung. *BAHAYA bila kita menggunakan payung di atas motor yang sedang berjalan* Alhasil, gambaran yang gue lihat kemudian adalah gue terbang jauh menghindari motor tersebut, dan tergeletak begitu saja di atas jalan raya yang diguyur derasnya hujan.

Mimpi aneh gue tidak berhenti sampai di situ, yang kemudian terjadi dalam mimpi gue malam itu adalah suasana di rumah gue, di mana ada bapak, mama, gue, dan kakak gue. Tiba-tiba kakak gue memecahkan neon di ruangan itu. Dan gue takut, akan ada aliran listrik yang menghukum kami.

Mimpi berikutnya, tidaklah lebih baik. Gue pernah diceritakan oleh Belle kalau dulu dia pernah lupa menutup jendela kamar kos, lalu ada tangan jahil yang masuk lewat celah jendela itu, hingga Belle teriak “Maling!!”

Gue pun bermimpi demikian, kalau ada perampok yang hendak masukkan tangannya melalui jendela kamar kos ini, kemudian mengambil ponsel yang gue letakkan tepat di dekat jendela tersebut. Kedua tangan yang entah milik siapa itu, terus berkelebat di dalam mimpi gue. Gue sempat ingin teriak, tapi rasanya suara gue tertahan.

Ini semua tampak begitu nyata. Gue sadar betul bahwa gue saat itu ingin memunculkan sedikit cahaya dari ponsel gue, namun entah kenapa ponsel gue itu tidak menyala juga! Gue ingin sekali membangunkan Belle, tapi rasanya sulit sekali. Gue terus berusaha untuk mengeluarkan suara tapi gak bisa.

Lalu ketiga gambaran itu terus muncul dalam pikiran gue beberapa menit kemudian. Sampai gue menitikan air mata. Gue menangis sampai terisa-isak. Gue terus memanggil Mama, walaupun gue tau mama gak akan muncul begitu saja di hadapan gue. Kalau muncul, justru malah bikin gue tambah takut!

Gue mau bangunin Belle gara-gara rasa takut ini, tapi gue takut dianggap cengeng.

Air mata gue terus mengalir, membasahi pipi, leher, hingga bantal dan selimut gue. Dan saat itu adalah kali pertama gue betul-betul rindu dengan keberadaan kakak gue yang seringkali nyebelin dan setiap kali ketemu pasti selalu aja bertengkar entah itu karena janji yang diingkari, atau masalah uang bergambar Pattimura yang tergeletak di atas meja belajar di kamar. Gue bener-bener takut kakak gue satu-satunya itu kenapa-kenapa.

Kali itu pula gue bener-bener kangen sama kedua orang tua gue yang udah hampir seminggu gak gue temui. Sedingin apapun pertemuan kami nantinya, gue bener-benet kangen mereka!

Tentang mimpi gue yang pertama itu, gue gak pernah berharap bahwa kehidupan gue di dunia yang fana ini akan bermula dari mimpi tentang kematian. Gara-gara itu gue jadi agak parno kalau lagi nyebrang jalan, terutama di Jalan Raya Margonda, atau waktu lagi naik ojek.

Jadi inget deh, waktu gue kecil, kayaknya gak ada yang gue takutin selain badut Dufan, sampai-sampai gak mau difoto bareng mereka. Tapi ketika usia gue sudah beranjak dewasa, emang gue udah gak takut lagi sama badut Dufan, tapi gue justru takut sama kematian, yang waktu jaman TK atau SD dulu gak pernah terlintas sama sekali dalam benak gue.

Bukan apa-apa, gue cuma takut aja, kalau gue belum cukup berbakti untuk orang tua dan keluarga di mana gue hidup, dan belum cukup amal dalam beribadah pada Tuhan, tapi waktu gue untuk melakukan semua itu udah habis.

Postingan ke 100 di blog gue ini, gue dedikasikan untuk Mama, Bapak, Mas Ian, dan anggota keluarga inti gue lainnya. Bagaimanapun dinginnya kehangatan kita, gak akan lebih dingin dari es yang mulai mencair di kutub utara.

2 thoughts on “Tafsir Mimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s