Tour The Belitung!!! (1 Januari 2011)

Tour The Belitung!!! (1 Januari 2011)

Hari pertama di tahun 2011 ini, gue lalui bersama dengan kawan-kawan dari FE UI menumpang pesawat Batavia Air tujuan Tanjung Pandan, Belitung. Laiknya Laskar Pelangi, kami berjumlah 10 orang.

Ada Andri si otak perjalanan ini merangkap sopir teladan yang berhasil menyebabkan salah satu kawan kami mengalami benjolan di dahinya akibat “lompatan” canggih yang ditimbulkan mobil yang ia kendarai.

Ada Esti atau biasa di sapa Estong yang mengalami cedera di dahi itu.

Ada Melinda atau Mei yang demam saat tiba di bandara Soetta sebelum pesawat take off karena baru saja malam sebelumnya dia mendarat dari Medan.

Ada Anisa Putri atau Onez yang punya sodara jauh di Belitung yang berakibat pada sarapan ala raja dan bangsawan Belitung di hari terakhir kami di sana.

Ada Ricky dan Reisa yang tidak dapat dipisahkan hingga ada hashtag di twitter #reisaricky.

Ada Mariana yang lebih akrab disapa Ndut yang kesulitan menuruni batu-batu granit yang luar biasa besar di Pantai Tanjung Tinggi sampai-sampai tidak berkesampatan foto-foto di pantai di bawahnya.

Ada juga Noviandri atau Ovy yaang hobi traveling dan satu-satunya mahasiswa angkatan 2008 dalam rombongan kami.

Ada juga Hilmi yang oke dengan kameranya dan dokumentasi yang oke-oke juga.

Dan tidak ketinggalan ada gue, Ira yang siap sedia dengan petty cash hasil patungan untuk transaksi semua keuangan dari mulai check in penginapan di hari pertama sampai dengan boarding time dan airport charge di hari terakhir.

Menurut jadwal pesawat kami akan berangkat pukul 10.50 wib, namun harus ditunda dan baru berangkat sekitar jam setengah 12 siang. Perjalanan dengan pesawat memakan waktu tidak lebih dari 1  jam menuju Tanjung Pandan, Belitung, tepatnya Bandara H. AS. Hanandjoeddin.

 

9 laskar pelangi di Hanandjoeddin
9 laskar pelangi di Hanandjoeddin

Kami menyewa mobil Kijang selama 3 hari kami berpetualang, Andri yang menghubungi Mas Dendi, harga sewa menurut kesepakatan adalah sebesar 250 ribu untuk 24 jam penyewaan, tanpa sopir dan tanpa bensin. Langsung saja kami memadati satu mobil itu dengan bagasi penuh barang-barang bawaan kami  bersepuluh, agak sempit memang, namun dengan strategi 4-4-2 kami berhasil sampai di penginapan kami di Tanjung Pandan yang waktut tempuhnya hanya 15 menit dari Bandara dengan jalan raya yang bersih, rata, rapih, sepi, tanpa kemacetan sama sekali!

Kami menginap di Wisma Adithya, beralamat di Jl. P. Diponegoro no. 22 Pangkalalang, Tanjung Pandan, Belitung. Pemiliknya bernama bapak Hadie nomor telepon yang bisa dihubungi (0719) 21557 atau 08117171742/081949198786. Ada juga email/facebooknya di wismaadithya@yahoo.com. Tempatnya nyaman dengan halaman parkir yang cukup luas, dan kondisi kamar yang bersih dengan fasilitas kipas angin/AC, TV digital, kamar mandi di dalam, dan juga ada musholanya. Kisaran harganya terbilang murah juga, minimal seharga 25 ribu permalam per orang untuk kamar tanpa AC dan TV. Mau lebih nyaman lagi pilih yang harganya Rp 200 ribu aja, ada 2 single bed, AC, TV digital, lemari beserta gantungannya, kamar mandi yang bersih dan tidak sempit, jemuran handuk, dan cukup nyaman untuk dipakai menginap untuk 7 orang wanita tangguh seperti kami dengan tambahan 2 extra bed seharga masing-masing 25 ribu. Recommended untuk kalian yang mau berkunjung ke Belitung!

Tanjung Pandan adalah bagian kota dari Pulau Belitong ini, sehingga letak wisma temoat kami menginap terbilang sangat cukup aksesnya menuju pusat kota tempat kami mencari sarapan hingga makan malam, dan menuju tempat wisata di kawasan Tanjung Tinggi, Tanjung Kelayang, dan beberapa pulau di sekitarnya, seperti pulau Lengkuas dengan mercusuarnya yang terkenal itu, Pulau Babi dengan keindahan biota lautnya, Pulau Burung, Pulau Pasir dengan bintang laut atau Pattricknya, dan keindahan alam lainnya di Belitong ini.

Setelah kami beristirahat sejenak di wisma, tidak buang waktu lagi kami langsung menuju pusat kota untuk mencari makan siang, yaitu Mie Belitung Atep yang satu atap dengan counter ponsel Fatta di jalan Sriwijaya. Namun, sayang sekali mie belitungnya tutup, karena hari itu tanggal 1 Januari sedang libur nasional. Saat libur begini banyak toko-toko di Tanjung Pandan tidak beroperasi, kecuali toserba Barata yang masih buka. Akhirnya kami makan soto daging/babat yang entah letaknya di mana. Hahha, tapi cukup enak juga, dagingnya banyak, sambalnya enak, nasinya banyak, sampai gue gak habisa makan nasinya. Harganya normal yaitu 15 ribu per porsi.

Setelah puas makan siang, kami langsung beranjak menuju Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi yang letaknya masih di dalam satu kawasan. Tempat ini adalah lokasi syuting film Sang Pemimpi dan Laskar Pelangi. Pemandangan batu-batu granit yang besar senantiasa menjadi pemandangan indah yang tidak dapat dipisahkan dari pandangan mata.

 

Pantai Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung Kelayang
Batu di Tanjung Kelayang
Batu di Tanjung Kelayang
Tanjung Tinggi
Tanjung Kelayang

Hari sudah mulai agak gelap saat kami sampai di Tanjung Tinggi, selain itu cuaca juga sedang kurang bersahabat, sehingga langit tertutup awan tebal, dan cahayanya menjadi kurang bagus. Namun, hal tersebut tidak membuat kami menyesal telah sampai di pulau timah ini.

Tanjung Tinggi
Tanjung Tinggi

Malamnya kami singgah sebentar di vila sodara Onez tinggal di Kampong Terong untuk berbincang sejenak dan icip-icip roti di sana. Hahha. Baru kemudian kami mencari Restoran Sari Laut yang terletak di Jalan Wahab Azis, yang tidak kami sangka-sangka rupanya di jalan seperti itu ada warung makan dengan banyak mobil dan motor terparkir di depannya. Itulah Sari Laut. Karena ingin hidup hemat kami tidak memesan kepiting, hanya memesan ikan jebong, cumi-cumi, udang, capcay, tumis taoge, dan tentu saja nasi. Makan bersepuluh orang kami menghabiskan sekitar 260 ribuan hingga perut kami kenyang dan penuh dengan makanan laut yang enak.

Sesampainya di pusat kota Tanjung Pandan, kami melihat keramaian yang sedari siang tadi tidak kami jumpai di kota ini. Saat malam begini, bertepatan dengan tanggal 1 Januari dan Sabtu malam atau Malam Minggu, banyak muda-mudi yang berfoto-foto di sekitar taman pusat kota, di mana ada air mancur di bawah monumen yang diatasnya terdapat patung berbentuk batu besar berwarna hitam pekat. Niatnya mau foto di situ malam itu juga, namun karena sudah capek dan suasana cukup ramai, kami mengurungkan niat itu.

Pengeluaran Hari 1:

Damri Bogor-Bandara Soetta : Rp 35.000

Airport Tax/charge : Rp 40.000

Patungan Bensin (beli di SPBU) : Rp 16.500

Makan siang di Belitung (Soto Daging + Es Teh Manis) : Rp 15.000 + 3.000

Makan malam di Sari Laut (masakan dan teh manis hangat) : Rp 23.000 + 3.000

Total: Rp 135.500

 

Sekilas tentang Petty Cash

Karena ada kebijakan sistem Petty Cash, jadi kami mengumpulkan uang masing-masing sebesar Rp 50.000 kepada satu orang (gue tepatnya), untuk dikoordinir untuk setiap transaksi pengeluarkan kami.

Kalau cadangan petty cash tinggal sedikit, kami urunan lagi Rp 50.000 per orang. Jadi kita gak perlu repot-repot lagi kalau udah gilirannya bayar-membayar, sehabis makan misalnya. Pastinya setiap makan, ada beberapa yang pesennya beda-beda dan lebih mahal, kebijakan dari sistem petty cash kami adalah, semuanya dibayarkan dulu oleh kas itu, nanti si bendahara yang pegang petty cash punya kewajiban untuk menghitung biaya yang seharusnya ditanggung masing-masing orang, jumlah harga yang paling rendah adalah jumlah yang akan disubsidi oleh petty cash, sisanya mereka harus bayarkan di petty cash.

Misalnya:

Total makan kita di Sari Laut sebesar Rp 261.000. Petty cash membayarkan pada kasir sejumlah ini.

Karena makanannya sama-sama semua, hanya minumannya yang beda, jadi total makanan seharga Rp 230.000 dibagi 10 orang, adalah Rp 23.000, sejumlah itulah yang disubsidi oleh petty cash, minumannya dibayar masing-masing. Ada yang nambahin Rp 3.000 atau Rp 10.000 tergantung kewajibannya sendiri.

Nah, makanya setiap ada transaksi seperti itu gue selalu bikin notes di HP gue, yang isinya setiap orang mesti bayar berapa, misal:

Andri 3

Ira 3

Ndut 3

Ricky 10

dst, setiap nama punya jumlahnya sendiri.

Setiap ada yang bayar, langsung di edit lagi notesnya.

 

Setelah selesai, yaitu di hari terakhir, sisa dari petty cash akan dibagi lagi ke setiap anggota rombongan dengan jumlah yang sama sebesarnya.

 

 

6 thoughts on “Tour The Belitung!!! (1 Januari 2011)

    1. Hai Ica.. Maaf yaa, saya baru baca..

      saya udah post 4 artikel tentang tour the belitung ini, untuk tau info lengkapnya bisa langsung baca aja keempat artikel itu.

      Yang jelas kita ke daerah pantai tempat shooting Laskar Pelangi & Sang Pemimpi, di Tanjung Kelayang, dkk. Kita juga ke daerah Manggar, Belitung Timur.

      Saya udah agak lupa habis untuk bensin berapa, kalau gak salah sekitar 300 ribu. Tapi kayaknya lebih dari itu. Maklum, mobil yang kita sewa gak irit bensin. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s