Tour The Belitung!!! (2 Januari 2011)

Tour The Belitung!!! (2 Januari 2011)

Hari kedua di Pulau Laskar Pelangi ini, kami berencana akan melihat sunrise di Pantai Tanjung Tinggi. Pasang alarm pukul 3.30 WIB, namun baru benar-benar bangun pukul 5 untuk solat subuh. Kerbau semua memang! hahha

Pagi di tanggal 2 awal tahun ini dimulai dengan mencari sarapan. Mobil yang sama dengan strategi 4-4-2 tetap menjadi andalan. Menuju pusat kota, cukup banyak yang menjual sarapan berupa nasi uduk, namun kebanyakan dari warung itu tidak menyediakan tempat makan yang memadai, mayoritas warga di sana membelinya untuk dimakan di rumah, sehingga kami harus mencari tempat sarapan yang lebih memadai lagi untuk kami makan. Akhirnya kami sampai juga di jl. Sriwijaya, kami menemukan warung makan yang beroperasi di depan ruko yang masih tutup. Sarapan kamim pagi itu adalah nasi uduk. Harga per porsinya adalah Rp 7.000, kalau di KaFE kampus gue, nasi uduknya seperti nasi uduk ayam suwir.

Puas dengan sarapan uduk, kami langsung meluncur mencari tempat wisata yang pertama, yaitu Kawah Kaolin. Perjalanan cukup jauh juga rupanya, hingga akhirnya kammi berhasil menemukan sebuah jalan belok di antara lurusnya jalan yang sepi, dan agak-agak rusak akibat sering dilintasi truk-truk besar pengangkut kaolin.

Kalau dari atas pesawat, gue melihat beberapa kolam seperti danau kelimutu yang berwarna hijau, biru, atau coklat, disekitarnya berwarna putih atau krem seperti tanah gunung-gunung kapur.

 

Pasir di sekitar Kawah Kaolin
Pasir di sekitar Kawah Kaolin

Tekstur pasir di sekitar kawah memang agak kasar dan kebanyakan terdiri dari serpihan batu-batu yang warnanya mengkilap.

Tujuan berikutnya di hari kedua ini adalah menuju Manggar di Belitong Timur, yang jaraknya sekitar 6 Km dari Kota Tanjung Pandan. Perjalanan menuju ke sana adalah perjalanan yang luar biasa menegangkan! Bukan karena sepinya jalan, kanan-kiri perkebunan sawit, tapi lebih karena tikungan-tikungan dan beberapa “lembah” jalan, yang membuat kita semua yang duduk di belakang pak supir, kaget bukan kepalang saat mobil dengan kecepatannya itu membuat kami semua melompat dari tempat duduk, sampai Estong menderita benjol di dahinya.

Hari itu adalah hari Minggu, aturan pertama ketika hendak mengunjungi Belitung adalah siapkan bensin baik-baik agar tidak kehabisa di jalan, karena pada hari Minggu SPBU selalu libur. Yang ada justru pengecer-pengecer bensin di pinggir jalan yang mematok harga mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per liter.

Setelah melewati beberapa Kampong yang cukup sepi dan jarang penduduk akhirnya kami sampai  juga di pusat Kecamatan Manggar. Warung Kopi adalah tempat yang tidak boleh dilewatkan begitu saja. Harga kopinya tergantung dari ukuran gelas, ada yang kecil, sedang, hingga besar. Rasanya, jangan ditanya! Enak! Gue pesen Es Kopi Susu, rasanya enak, tanpa ampas kopi tapi rasa kopinya tetap melekat. Biasanya banyak laki-laki yang duduk-duduk sambil main catur, gaple, atau sekedar berbincang saja di warung kopi itu.

Karena takut kehabisan bensin, dan memang kami tidak kebagian bensin eceran di pinggir jalan, akhirnya kami bertanya pada pemilik warung kopi di mana kami bisa mendapat bensin. Karena keramahan orang-orang di Belitung, kami akhirnya mendapatkan bensin juga setelah ibu pemilik warung menelepon kawannya yang tertanya mempunyai cadangan bensin untuk konsumsi pribadi, namun harga yang harus kami bayarkan untuk bensin tersebut cukup mahal, yaitu Rp 7.000 per liternya.

Puas mencicipi Kopi Manggar di tengah teriknya panas matahari Belitong, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Kuil Kuan Im. Jaraknya cukup jauh, ada di daerah Gantong, dan jalannya pun menanjak. Siang itu hujan mengguyur Belitong sehingga jalan menuju ke sana harus dilalui dengan sangat hati-hati. Kembali, jalanan sepi selalu kami jumpai.

Sampailah kami di lapangan parkir yang sepi, dan puluhan anak tangga menghadang kami untuk sampai di atasnya. Sesampainya di sana, tempat ibadah itu tidak begitu luas, ada sebuah patung dewi, dengan dupa di depannya. Tulisan-tulisan Cina mendominasi dindingnya. Warna merah juga menjadi pemandangan sedari awal menaiki anak tangganya.

Dan dari ketinggian kuil itu, kita bisa melihat betapa indahnya Belitong dengan hijaunya dedeaunan yang meneduhkan, putihnya pasir-pasir di sekitar kawah Kaolin, dan tentu saja danau kawah kaolin itu sendiri.

 

Dari atas Kuil Kuan Im
Dari atas Kuil Kuan Im

Dari kuil dewi, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi sekolah yang menjadi latar film Laskar Pelangi. Namun, sebelum ke sana kami menyempatkan diri dulu mengunjungi bendungan Pice. Sebenarnya bendungan ini seperti bendungan yang lainnya, hanya saja tempatnya masih terasa sepi dan jarang pengunjung.

Foto-foto di sana, kami langsung mencari SD 9 Gantong, tempat syuting film yang terkenal karena novel karya Andrea Hirata itu. Letaknya di Kampong Selinsing. Tidak dilewati jalan raya besar, harus belok-belok dulu untuk menuju ke sana. Sampai di SD tersebut kita semua bingung, karena yang sama dari sekolah ini dengan filmnya hanyalah pohon-pohon yang berdiri tegak di halaman depan sekolah dengan pagarnya yang terbuat dari tembok. Kami mencari-cari bangunan sekolah yang mirip dengan di film, tidak kami temukan juga. Yang ada adalah bangunan sekolah yang sudah bagus, namun di halaman depannya ada sebuah petak bekas bangunan, dan ada pula seperti sumur yang dijadikan tempat sampah. Melihat itu semua, kami meyakini bahwa ini memang lokasi sekolah yang dimaksud di film itu.

Belum puas, kami hendak mencari replika sekolah dasar Muhammadiyah yang menjadi sekolah Lintang dulu. Perjalanan cukup jauh lagi harus kami tempuh, hingga akhirnya kami melihat dari jalan raya ada sebuah bangunan berwarna putih-biru dari kayu, rupanya itu adalah replika tersebut tampak belakang.

 

Replika SD Muhammaddiyah
Replika SD Muhammaddiyah

Wuhhh… perjalanan luar biasa sekali di Manggar-Gantong.

Sangat mengesankan.

Siang sudah menuju sore hari, kami ingin langsung melanjutkan perjalanan lagi pulang menuju Kota Tanjung Pandan. Tangki bensin sudah terisi, namun tangki perut belum terisi juga.Kami akhirnya singgah di warung mie ayam, di sekitar pasar, yang gue lupa namanya pasar apa. hehe

Harga mie ayamnya tidak begitu mahal, wajarlah, dengan porsi yang cukup besar seharga Rp 7.000 sama dengan harga per liter bensin yang kami beli tadi.

Makan sudah, tinggal satu lagi kewajiban yang belum dilaksanakan, yaitu Sholat! Bukan hal yang sulit untuk mencari mesjid di Belitong, karena hampir di setiap tikungan pasti ada mesjidnya. Walau demikian, gue tidak jarang pula melihat anjing berkeliaran. Bukan hanya satu atau 2 ekor saja, bisa sampai 4 ekor bahkan sekali melewati jalan.

Hingga akhirnya kami kembali lagi ke Kota Tanjung Pandan. Sedari kemarin kami berkunjung ke tempat wisata, tidak ada pungutan sama sekali. Jadi, tempat wisata di Belitung itu jarang sekali yang meminta pengunjungnya untuk membayar karcis masuk. Di Bukit Berahu yang dikenal dengan Sunset beach, harga karcisnya adalah Rp 2.000, sedangkan untuk pantai yang kami kunjungi di hari ini, yaitu Pantai Tanjung Pendam, harga masuknya adalah Rp 1.000 per orang.

Rupanya, kota yang sepi sama sekali tidak terlihat di pantai wisata ini. Rasa-rasanya semua warga kota Tanjung Pandan singgah di pantai ini untuk menikmati matahari terbenam.

Sayang cuacanya yang mendung, membuat matahari tidak terlihat di pantai ini.

Di Tanjung Pendam inilah banyak toko-toko yang menjual pernak-pernik karya masyarakat Belitong, mulai dari kerajinan dari batangan rotan yang tipis, hingga kerang-kerang laut, dan kaos ala Belitong dengan nama “Agas”.

Capai berkeliling Tanjung Pandan-Manggar-Tanjung Pandan, kami langsung menuju wisma untuk istirahat sejenak, baru kemudian menikmati kehidupan malam di Kota Tanjung Pandan lagi.

Niatnya pengen makan di Kedai SS, nyobain sop iga bakarnya yang berhasil membuat jalanan di depannya macet karena parkiran yang sulit di dapat. Namun, karena sampai di SS sudah agak malam, yaitu jam setengah 9 malam, makanan yang tersisa tidak cukup untuk kami bersepuluh, akhirnya kami mencari tempat makan yang lain.

Kembali lagi kami menuju Jl. Sriwijaya. Singgah di rumah makan Diva untuk mencoba mie kepitingnya. Malang nasib, mie pun telah habis, yang tersisa hanya nasi dan bihun saja. Pampi juga sudah habis, yaitu sejenis kwetiau.

Akhirnya kami menutup malam kami dengan makan nasi goreng kepiting di warung Diva itu, yang per porsi harganya Rp 15.000. Dan porsi besarnya itu membuat gue cukup untuk makan berdua dengan Mei berbagi 1 piring.

 

Pengeluaran Hari 2:

Sarapan nasi uduk di Jl. Sriwijaya : Rp 7.000

Kopi Susu Manggar + bakpia  : Rp 7.000 + 1.000

Patungan beli bensin (20 liter) : Rp 14.000

Makan siang mie ayam : Rp 7.000

Karcis masuk Tanjung Pendam : Rp 1.000

Makan Malam Nasi goreng kepiting + es teh tawar : Rp 8.000 + 1.000

Total : Rp 46.000

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s