Tour The Belitung!!! (3 Januari 2011)

Tour The Belitung!!! (3 Januari 2011)

Di hari ketiga ini agenda melihat sunrise sudah tidak menjadi hal utama bagi kami semua. Yang kami inginkan hari ini hanya bermain air di tepi pantai, singgah di beberapa pulau di bagian barat laut Pulau Belitong, dan tentu saja melihat langsung indahnya biota laut di kawasan ini.

Hal yang perlu dipersiapkan adalah pakaian siap snorkle, pakaian ganti, bekal makan siang, dan tentu saja perut yang telah terisi dengan makanan enak.

Sekitar jam 7 pagi kami sarapan di tempat yang sama seperti kemarin, karena kami tidak tau lagi harus sarapan di mana. Makanan yang dipesan berbeda dari hari sebelumnya, kini kami memesan bubur dan juga lontong sayur yang di dalamnya terdapat kacang panjang dan kulit sapi atau kerecek.

Setelah itu kami mencari warung yang menjual masakan yang bisa bertahan cukup lama. Setelah pusing berputar-putar di kawasan Tanjung Pandan, kami akhirnya menemukan warung nasi campur di dekat pasar yang tidak jauh dari pusat kota.Baru kemudian kami meluncur menuju pantai Tanjung Kelayang, tempat perjanjian bertemu dengan Bang Kusdian yang akan menyediakan kapal dan peralatan snorkel beserta guidenya, tepatnya di Warung Makan Nyiur Melambai.

Langit gelap saat kami tiba di Tanjung Kelayang, hingga akhirnya air hujan benar-benar turun dan jatuh di bumi Laskar Pelangi ini.

Cuaca yang cukup buruk membuat kami harus menunda keberangkatan menuju pulau-pulau kecil di sekitar Tanjung Kelayang. Namun, tidak ada gurat kesedihan di wajah kami bersepuluh, karena ada permainan kartu yang sungguh menyejukkan dan mencairkan suasana yang cukup tegang akibat hujan angin ini. Permainan itu adalah “BABI”. Namanya seperti nama satu pulau yang akan kami singgahi, yaitu Pulau Babi. Dan kami senang bermain Babi sambil menanti cuaca bersahabat datang.

Awalnya hanya berempat yang main, namun setelah sekali permainan beberapa yang lainnya tertarik juga untuk ikutan, hingga tersisa Estong dan Ndut yang bertugas menjadi dewan juri dan berhak menunjuk siapa pemain yang telah berubah menjadi babi. Dari dua kali permainan babi yang kami lakukan, predikat Sang Maha Babi jatuh pada satu orang saja, yaitu Ricky.

Setelah bosan bermain babi, kami beranjak menuju pinggir pantai yang airnya sedang pasang, seperti anak pantai lainnya, kami bermain kubur-kuburan di sini. Dan kami membuat patung duyung dari kerangka tubuh Ricky yang agak berisi. Anggap saja ini sebagai hukuman bagi sang Maha Babi.

Cuaca sudah mulai membaik, kami bersepuluh langsung menaiki kapal. Pelampung atau vest telah melekat di tubuh kami. Perjalanan membelah laut akan segera dilakukan!

Ini adalah kali pertama gue naik kapal, goyangan yang dihasilkan ombak laut tidak membuat gue mual ketika kapal melaju kencang. Berlabuhlah kami di Pulau Babi. menyusuri pinggir pulau itu jengkal demi jengkal. Saat ingin berfoto di atas batu besar di dekat pulau itu, tiba-tiba kecelakaan menimpa kami. Betul kami. Andri yang hendak menaiki batu tersebut malah terpeleset dan menyebabkan kameranya ikut jatuh dan sempat merasakan berenang sesaat di air laut. Kecelakaan bagi kami semua, karena foto-foto selama 3 hari di Pulau ini ada juga di kamera milik Andri itu. Hingga tulisan ini dibuat, gue gak tau gimana nasibnya memory card dalam kamera Andri yang kameranya udah gak bisa dinyalain lagi.

Setelah itu kami langsung naik perahu lagi menuju pulau Lengkuas, yang terkenal dengan mercusuarnya. Ternyata perjalanan laut menuju pulau itu cukup jauh juga, awalnya ombak tidak begitu liar, namun ketika kapal kami berada di tengah-tengah lautan gelombang laut yang cukup liar mulai menghadang kami. Kapal kami bergoyang dari kanan ke kiri, kemudian seperti naik Kora-kora di Dufan, kaki takur sekali melaju ke depan. Pulau Lengkuas hanya tinggal beberapa meter dari kapal kami, namun kami memutuskan untuk snorkling terlebih dahulu.

Saat kapal ini benar-benar mematikan mesinnya, gue mulai pusing. Kemudian pusing gue hilang saat gue sudah memakai fin atua kaki katak, dan google atau kacamata snorkle dan nyebur ke tengah laut. Ini adalah kali pertama gue snorkling, gue gak bisa berenang, tapi gue gak takut tenggelam karena sudah ada pelampung yang menahan tubuh gue untuk tetap mengapung di atas air. Teknik yang harus dikuasai dalam snorkle adalah belajar bernapas melalui mulut. Cukup beberapa menit saja gue berlatih, gue langsung menenggelamkan wajah gue di tengah air laut dan pemandangan berikutnya yang gue lihat adalah sesuatu yang indah, yang tidak ada di daratan.

 

Snorkle time
Snorkle time

Kemudian, gue melihat kapal mulai menjauh. Karena gue gak bisa berenang, gue gak bisa menjangkau kapal itu, gue pun dibantu oleh tour guide kami untuk menuju kapal. Ternyata caranya bergerak maju menggunakan fin di laut adalah seperti mengayuh sepeda. Sampai di atas kapal, goyangan-goyangan kapal tanpa deru mesinnya, membuat gue benar-benar mual, hingga tak segan untuk memuntahkan isi perut gue yang tadi pagi gue makan.

Sampailah kami semua di pesisir Pulau Lengkuas.

 

Pulau Lengkuas dari Mercusuar
Pulau Lengkuas dari Mercusuar

Kami langsung istirahat makan siang, baru kemudian melanjutkan petualangan di pulau Lengkuas ini dengan menaiki anak tangga di dalam mercesuar yang sudah berdiri sejak tahun 1800-an. Di sanalah ada kotak sumbangan bagi wisatawan yang hendak memasuki mercusuar itu. Namanya juga sumbangan, jadi seikhlasnya.

Ketika sampai di atasnya, pemandangan indah Pulau Lengkuas dari atas sungguh sangat luar biasa, tidak hentinya kami bersyukur pada Tuhan atas keindahan alam yang telah Ia ciptakan ini.

 

Reisa di atas mercusuar lengkuas
Reisa di atas mercusuar lengkuas

Puas berfoto-foto di atas mercusuar, ketika hendak kembali pulang menuju Pulau Babi untuk melakukan snorkle part 2, cuaca buruk kembali menghadang, hingga akhirnya kami dengan pakaian serba basah ini menunggu hujan angin reda dengan menikmati pop mie seduh di kawasan mercusuar itu.

Setelah cuaca kembali membaik kami langsung meluncur dengan kapal yang sama menuju pulau Babi.

Di tengah laut, gelombang laut kembali menakutkan kami. Kapal terombang-ambing dengan kerasnya. Goyangannya lebih dahsyat dari pada goyang Trio Macan atau Inul ditambah Dewi Persikk, lebih dahsyat juga dibandingkan niagara-gara ditambah kora-kora di Dufan. Membuat kami terus berpegangan pada pinggir kapal. Niat untuk snorkle part 2 pun kami gagalkan. Namun, kami sempat singgah di pulau Pasir yang isinya memang pasir saja, disertai dengan Pattrick si Bintang Laut. Angin kencang dan hujan yang kembali muncul membuat kami bergegas menaiki kapal dan berlabuh di Tanjung Kelayang, tempat kami memulai perjalanan laut ini.

Lega rasanya telah mendarat.

Baju ganti yang telah kami bawa, tidak juga kami kenakan karena pakaian basah yang melekat di badan ini dan pasir yang bersarang di pakaian ini membuat badan kami lengket dan ingin segera kembali ke penginapan untuk membersihkan badan.

Pukul 7 malam kami langsung bersiap menuju tempat makan yang kemarin gagal kami singgahi, yaitu Kedai SS yang menyediakan sop iga bakar, sop buntut bakar, dan segala sesuatunya yang enak. Kedai SS ini letaknya di Jl. Gegedek no. 29 Tanjung Pandan. Suasananya cozy, dan makanan pun enak-enak semua.

Kenyang perut karena sop iga bakar yang enak, kami kemudian menuju pusat kota Tanjung Pandan dan berfoto-foto di taman air mancurnya. Baru kemudian kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jl. Sriwijaya di malam hari. Gue, Andri, dan Hilmi, sempet-sempetnya menyambangi warung kopi yang dipenuhi dengan bapak-bapak dan asap rokok itu untuk membeli kopi susu, tapi rasanya masih lebih enak yang kami nikmati di Manggar. Namun, harganya di sini memang lebih murah.

Kemudian kami pun hendak menghilangkan hasrat menikmati martabak bangka di Belitung ini, di malam terakhir kami di pulau ini. Memang agak mahal harganya dibandingkan dengan harga martabak di Pulau Jawa. Martabak telor dengan 2 butir telur bebek, dihargain Rp 20.000 sedangkan untuk martabak manis isi keju dan coklat, dihargai Rp 28.000.

Kenyang sekali perut ini rasanya ditambah dengan sekoteng yang dibeli Reisa, sungguh perut gue penuh!

Pengeluaran Hari 3:

Sarapan Lontong Sayur : Rp 8.000

Bekal makan  siang Nasi Campur : Rp 10.000

Sewa kapal (Rp 350.000 / 10 orang) : Rp 35.000

Alat Snorkle : Rp 50.000

Tourguide (Rp 100.000 / 10 orang) : Rp 10.000

Masuk mercusuar Lengkuas (Rp 30.000 / 10 orang) : Rp 3.000

Pop Mie seduh : Rp 8.000

Makan malam sop iga bakar + milo hangat : Rp 16.000 + 6.000

Es Kopi Susu di Warkop Jl. Sriwijaya : Rp 5.000

Patungan beli Martabak ([Rp 20.000 + 28.000] / 10 orang) : Rp 4.800

Total : Rp 155.800

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s