Tour the Bogor!

Tour the Bogor!

Sabtu ini cuacanya agak labil, bentar-bentar hujan, bentar-bentar cerah. Tapi beruntungnya kami, langit di Bogor lagi gak mau menurunkan hujan deras selama kami menyusuri trotoar di sekitar Kebun Raya Bogor. Mataharipun tidak begitu terik, jadi tidak akan terlalu membakar kulit.

Inilah petualangan kesekian yang gue lakukan di kota kelahiran gue sendiri, Bogor.

Bersama dengan Fadel dan Yusuf, dua anak kosan di Kampus UI Depok. Kami bertiga memulai penjelajahan kota hujan Bogor dari Stasiun Besar Bogor. Kaki kami melangkah menuju Balai Kota Bogor untuk menunaikan kewajiban sebagai umat Muslim. Baru kemudian petualangan kami pun dirumuskan.

Berjalan kaki dari Balaikota menyusuri Kejaksaan Negeri Bogor hingga berujung pada pemberhentiaan angkot di jalan Pengadilan kami jalani guna mencapai tujuan wisata kami, yaitu Museum PETA. Museum ini bukanlah tentang berbagai macam peta atau atlas geografi, namun museum ini adalah Museum Pembela Tanah Air. Letaknya di Jl. Sudirman Bogor.

Sampai di depan Museum, kami agak kecewa karena gerbangnya tutup! Namun, kami tidak ingin larut dalam kekecewaan, karena tepat di seberang jalan itu ada tempat makan yang ingin sekali gue kunjungi, yaitu Soto Karak!

Suasana restoran itu cukup menyenangkan dan sangat cocok untuk tempat makan keluarga atau pasangan. Lantainya terbuat dari bebatuan besar, bukan lantai keramik seperti di mall-mall. Dindingnya dari bilik bambu, dan lampu hiasnya terbuat dari anyaman bambu atau rotan juga. Memasuki tempat makan ini, kita akan melihat beberapa macam alat makan yang terbuat dari tanah liat melekat di dindingnya. Menu datang, kami pun langsung memesan 3 porsi soto karak!

Nama di buku menunya adalah Nasi soto karak, harganya 15 ribu per porsi. Saat datang, soto itu disajikan diatas mangkuk yang berupa gerabah juga, dengan sendoknya adalah sendok bebek. Tau kan sendok bebek itu yang kayak gimana? Nah, menerima mangkuk itu, gue pun bertanya-tanya, di mana gerangan nasinya? Karena seinget gue di menu itu tertulis “Nasi Soto Karak”. Sebelum gue bertanya pada pelayannya, gue pun mencari tau jawabannya sendiri dulu. Gue coba sendok sedikit soto di mangkuk itu, rupanya nasinya sudah ada di dalamnya. Hahha… gue baru sadar, namanya juga “Nasi Soto Karak”, bukan “Soto Karak + Nasi”. Jadi, wajar aja kalau nasinya ngumpet di dalam mangkuk.

 

Soto Karak
Soto Karak

Nikmat dengan makan soto karak itu, kami pun menaiki angkot 07 Wr. Jambu-Merdeka untuk menuju museum lainnya di Kota Bogor. Turun setelah lampu merah di dekat SMA 1 Bogor yang gue cintai, kami kemudian menyusuri trotoar yang diteduhi dengan pepohonan besar menuju Museum Etnobotani. Sampai lah kami di muka museum, yang bertuliskan Herbarium Bogorensis. Gerbangnya terbuka lebar, dan ada penjaganya di muka gedung itu. Tapi ternyata, museumnya TUTUP! Sama seperti Museum Peta yang hendak kami kunjungi tadi. Petugas di sana bilang, bahwa museum di Bogor hanya beroperasi pada saat hari kerja saja, yaitu Senin-Jumat. Jadi, kami gak bisa berkunjung ke museum itu. Padahal gue belum pernah ke museum itu sama sekali.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Kebun Raya Bogor, karena masih ada museum Zoologi di sana, yang ternyata tiket masuknya sudah digabungkan dengan tiket masuk Kebun Raya Bogor. Pintu masuk museumnya pun bukan dari pintu yang langsung di depan jalan raya, melainkan dari jalan masuk di Kebun Raya Bogor.

Wisata museum pun kami nikmati juga akhirnya. Setelah membayar tiket masuk Kebun Raya Bogor seharga Rp 9.500 per orang, kami langsung menuju Museum Zoologi yang diincar dari awal. Seperti museum pada umumnya di Indonesia, ruangan Zoologi ini pun agak gelap, banyak hewan-hewan yang telah diawetkan mulai dari unggas, mamalia, pengerat, binatang melata, ikan, hingga serangga ada di museum ini. Dan yang paling besar adalah kerangka paus biru yang dulunya ikan ini terdampar di Pantai Pameungpek, di Garut, Jawa Barat.

Berjalan-jalan terus di dalam kebun raya dengan cuaca yang cukup menyenangkan, tanpa terik matahari yang menyengat. Hahha… Menuju danau yang memisahkan antara Istana Bogor dengan Kebun Raya Bogor. Kemudian kami ke Taman Mexico yang dipenuhi tumbuhan kaktus.

Taman Mexico
Taman Mexico

Terus melanjutkan perjalanan di dalam kebun raya, dengan melewati jembatan yang mengalir Sungai Ciliwung di bawahnya. Hingga akhirnya kami menemukan jalan yang sepi dari keramaian orang-orang, namun tetap memesona dengan pepohanan yang berdiri kokoh di pinggirnya.

Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor

Kami terus menyusuri jalan-jalan dan taman-taman yang indah di Kebun Raya Bogor ini, hingga kami sampai di kawasan Cafe Dedaunan. Di belakang Cafe itu ada Pintu Keluar kebun raya. Jam 4 sore kami melangkah keluar pintu tersebut, di seberang kami terdapat gedung Sekolah Pascasarjana IPB. Dan beberapa langkah kami menjauh dari pintu itu, petugas yang berjaga langsung menutup dan menguncinya. Yah, beruntungnya kami, karena ternyata pintu itu hanya dibuka hingga pukul 16.00 saja!

Tidak jauh dari pintu keluar Kebun Raya Bogor ini, ada Botani Square. Seperti pusat belanja keluarga pada umumnya, di dalam Botani Square, atau yang lebih dikenal dengan nama Boqer oleh anak-anak Bogor, ada toko buku, handphone, pakaian, dan bioskop.

Di sana kami sempatkan untuk singgah sebentar di Food centernya yang bernama De’ Oryza. Ya, nama latin untuk tanaman padi, Oryza sativa. Kami hanya pesan es doger, enak juga.

Kemudian kami lanjutkan lagi perjalanan kulinary kami, menuju Kedai Kita yang terletak di seberang Apple Pie, tepatnya di Jl. Pangrango 21 Bogor. Dari lampu merah Tugu Kujang di depan Botani Square, kami naik angkot 08A yang melewati jalan tepat di depan Kedai Kita ini. Makanan yang terkenal dari kedai ini adalah Pizza Tungku-nya. Ya, pizza yang dibakar di atas tungku kayu bakar. Dan rasanya… Ughhh, lezat banget!

Pizza Smoked Chicken Funghi
Pizza Smoked Chicken Funghi
Yusuf dan Fadel semangat menyerbu pizza
Yusuf dan Fadel semangat menyerbu pizza

Dengan harga setengah uang bergambar Soekarno, kami bisa menikmati lezatnya 6 potong pizza dengan lelehan keju di atasnya ini. Nyam-nyam…

Jam setengah 6 lewat, kami beranjak dari Kedai Kita untuk kembali lagi menuju Stasiun. Dari situ kami berjalan sebentar menuju Lapangan Sempur di seberang Kebun Raya Bogor, untuk naik angkot 03 dan berhenti tepat di depan Matahari Dept. Store kemudian berjalan sebentar menuju Stasiun Kereta Bogor.

Itulah petualangan kami di Kota Sejuta Angkot ini. Menyenangkan! Ayo ke Bogor!

 

2 thoughts on “Tour the Bogor!

  1. Uploadnya cepet banget dah..hahaha.
    Thanks anyway. Udah jadi pemandu wisata kota dadakan.

    Lain kali didokumentasikan pake handycam. Trus di upload ke youtube.

    Semangat Iraaa!! =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s