Pesan Dari Teman

Pesan Dari Teman

Suatu ketika gue sedang merapikan meja belajar gue yang berantakan di kamar, gue menemukan dua lembar pembatas buku bikinan tangan karya sahabat gue jaman SMA dulu.

Pembatas buku yang pertama bunyi kalimatnya seperti ini:

“Dear… Tuhan mengajarkan kita rasa sakit agar kita mampu menjadi dewasa. Agar manusia dapat tumbuh, agar dari sesuatu yang jatuh berkeping-keping manusia dapat merakit kembali keutuhannya… No more sad, friend!”

Pembatas buku yang kedua berisi:

“Only for my lovely great friend: Kita tak pernah kalah karena mencintai seseorang, kita selalu kalah karena tidak berterus terang… Dan jika kau ingin dicintai, cintailah orang lain dan jadilah orang yang dapat dicintai…”

Gue lupa kapan tepatnya sahabat gue itu memberikan kata-kata itu untuk gue. Tapi yang jelas, jauh sebelum hal yang paling mengesankan yang terjadi dalam hidup gue selama gue duduk di bangku SMA dulu.

Rupanya, pesan itu bagaikan alarm untuk gue.

Gue sudah kalah. Bener apa yang tuliskan di pembatas buku itu, gue kalah karena gue gak pernah berterus terang dengan apa yang gue rasakan selama itu. Hingga akhirnya gue harus merelakan seseorang yang berarti dalam hidup gue waktu itu dimiliki oleh orang lain.

Sesuai dengan pesan di pembatas buku yang pertama, gue bener-bener merasakan sakit. Perasaan yang kacau-balau, kalau bisa dibilang ibarat mangkuk peninggalan dinasti Ching yang sangat antik terus pecah berkeping-keping. Yah, begitulah perasaan gue saat mendapati kenyataan yang sangat gak bisa gue lupakan itu.

Dan seperti apa yang dia tuliskan dalam pesan itu, gue benar-benar tumbuh dan merakit keutuhan mangkuk antik itu.

Gue mulai mencooba untuk mencintai orang lain, seperti pesan kedua yang dia tuliskan untuk gue. Dan gue tetap berlaku seperti diri gue yang mereka kenal biasanya.

Ada satu hal yang gue bantah dari pesannya, yaitu mengenai “jadilah orang yang dapat dicintai”. Karena bagaimanapun juga kita terlahir sebagai makhluk dengan karakter yang unik, dan tentu saja sangat dapat untuk dicintai.

Apapun yang telah terjadi dalam hubungan persahabat kita selama bertahun-tahun ini, gue jamin gak ada kebohongan dan gak ada dusta. Gue turut senang dengan kebahagiaan lu selama ini, walaupun ada sedikit rasa sakit yang gue rasa pada awalnya, tapi gue bisa kok menjalani hidup gue yang dinamis ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s