Pendidikan Kita Kini

Pendidikan Kita Kini

Tepukan tangan tak bergairah, dan suara yang  mengalun hampir tak terdengar dengan jelas menjadi hal yang acap kali kita saksikan selama perjalanan menggunakan angkutan kota di mana pun.

Hal itulah yang dialami oleh ibu saya, seorang guru sekolah dasar di sebuah kampung di pinggiran kota Bogor. Beliau sedang menumpang sebuah angkot sepulangnya dari pasar, ada seorang anak dengan tampangnya yang tidak bersemangat bernyanyi dengan nada yang entah didasarkan pada apa, dengan suara yang tidak begitu jelas maknanya apa. Ibu saya memperhatikan anak laki-laki itu, pengamen cilik itu. Lagunya berhenti, tangannya menengadah, hatinya berharap akan ada uang yang dia terima.

Ya, beberapa rupiah berhasil dia kumpulkan. Sampai saat dia melihat tangan siapa yang memberikan uang itu, wajahnya terkesiap. Dia kaget, seseorang yang dilihatnya itu justru tersenyum dan menasihatinya. “Kamu ke mana aja gak pernah sekolah lagi? Besok masuk sekolah ya!”

Pengamen cilik itu adalah murid ibuku di tempatnya mengajar.

Beginilah realita yang ada di masyarakat kita. Alasan ekonomi menjadi kendala yang sangat berarti dalam pendidikan. Mereka yang berhak menikmati indahnya belajar di bangku sekolah formal, justru harus menikmati kehidupan kerasnya di jalanan yang panas.  Semua itu mereka lakukan untuk mendapatkan uang.

Uangnya untuk apa? Mungkin ada yang berpendapat bahwa uang hasil ngamennya itu pasti untuk biaya sekolahnya. Atau, untuk membantu orang tuanya membiayai kebutuhan sehari-hari keluarga. Atau, mungkin ada juga yang terpikirkan bahwa uang itu untuk dibelikannya mainan, seperti tembak-tembakan atau mobil-mobilan. Atau mungkin ada juga yang berpendapat, “paling-paling uangnya untuk beli kretek!”. Ya, banyak opsi memang untuk apa uang itu dikumpulkan.

Satu hal, sekolah tempat ibu saya mengajar itu adalah sekolah gratis yang sengaja dibuat oleh Pemerintah guna meningkatkan jumlah anak yang bersekolah, mengurangi angka buta aksara, dan yang pasti untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setiap tahunnya, mereka yang sekolah di sana akan mendapatkan seragam sekolah, sepatu, dan perlengkapan sekolah lainnya. Setiap semesternya akan ada uang buku yang dibagikan pada siswa-siswanya untuk membeli buku-buku kebutuhan belajarnya. Selain itu, beberapa buku paketnya juga dipinjamkan gratis selama satu tahun untuk mendukung kegiatan belajar para siswanya.

Bahkan, Dinas Pendidikan Kota Bogor sendiri pun seringkali mengadakan program beasiswa untuk anak-anak sekolah dasar yang berprestasi namun kurang mampu. Namun, justru kebanyakan dari anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu itu mengalami kesulitan dalam menangkap pelajaran di kelas, sehingga prestasinya tidak begitu cemerlang. Beasiswa yang tadinya hanya untuk anak berprestasi itu, kini akhirnya dibagikan bagi mereka yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, walaupun prestasinya tidak bagus di sekolah.

Dengan fasilitas seperti itu, ternyata masih banyak anak-anak yang membolos dan tidak mengikuti  kegiatan belajar-mengajar di kelas.

Niat baik dan usaha yang dilakukan oleh Pemerintah, yang selama itu dianggap tidka pernah peduli pada nasib rakyat kecil, pada prosesnya tidak bisa berjalan sendiri saja. Niat baik dan usaha yang dibarengi semangat dari anak-anak -generasi penerus bangsa- inilah yang juga menentukan nasib pendidikan kita kini dan nanti.

Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Tidak akan pernah bisa berjalan sendiri. Kalimat yang seringkali diungkapkan oleh para penggemar Liverpool, rasanya tepat untuk disematkan pada pemerintah kita, “You’ll never walk alone.”

3 thoughts on “Pendidikan Kita Kini

  1. wah..sungguh memprihatinkan, ini adalah masalah culture bangsa kita. kalo kita benar-benar mau mengkaji ajaran islam, kita dapatkan bahwa islam menjunjung tinggi ilmu. islam mengalami masa keemasan karena umatnya selalubersemangat dalam hal keilmuan.
    pendidikan yang baik bagi kita adalah pendidikan islam. krn dengan pendidikan islam, banyak umat islam yang dapat diselamatkan dari gerakan pemurtadan (tentunya dengan seizin Alloh). dengan pendidikan islam sangat memungkinkan untuk islamisasi dengan cara mendakwahkan islam pada non muslim sehingga mereka mendapatkan hidayah islam melalui pendidikan, agar kelak mereka tidak menyesal di akherat karena kekafiran mereka.

  2. bagus sekali tulisan lw ini ra
    ckckck
    klo gtu ternyata mereka yg emang ga ada semangat belajarnya gitu ya ra?
    wah..harus ada training motivasi ni nampaknya di tiap sekolah sd..ya kagak?
    hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s