Gara-Gara TIKUS

Gara-Gara TIKUS

KRL Ekonomi jadwal keberangkatan pukul 10.10 dari Stasiun Bogor, seperti biasa, dalam keadaan penuh. Alhasil, gue pun berdiri. Pedagang berlalu-lalang seperti biasa jug, menjajakan dagangannya, buah, minuman, permen, tisu, masker, aksesoris, dan lain-lain. Tiba di Stasiun Bojong Gede, ada seorang ibu yang berdiri di sebelah kanan gue. Tak lama setelah ibu itu datang, suara seorang pedagang mulai berteriak-teriak, unik, beda, lain daripada teriakan para pedagang yang sering gue jumpai.

Pedagang itu laki-laki, dia mengangkat tangan kanannya berusaha menunjukkan barang dagangannya itu. Berbungkus plastik kemasan bergambar tikus berwarna hitam pekat di depannya. Dia pun berteriak: “Ayo, selamatkan Indonesia! Sudah terlalu banyak tikus-tikus hidup di negeri ini. 2012 Indonesia bisa game over kalau masih banyak tikus berkeliaran!”

Ibu-ibu di samping gue pun menggerutu pelan, “Tikus lagi, tikus lagi!”

Pedagang itu masih berteriak-teriak: “Ibu orang Indonesia, kan?” Sambil menunjukkan barang dagangannya, entah pada siapa, gue gak melihatnya. “Ayo, selamatkan Indonesia!”

Dia terus melangkah di antara himpitan penumpang kereta yang padat siang itu.

“Lumpur Lapindo gak berhenti-henti, itu gara-gara tikus! Indonesia krisis pangan, itu gara-gara tikus! Ayo, selamatkan Indonesia dari tikus-tikus! Kalau enggak, bisa game over Indonesia! Panen gagal, itu semua gara-gara tikus! Udah terlalu banyak tikus di Indonesia, ayo selamatkan Indonesia!” ujarnya lantang.

“Saya bukannya maksa untuk beli. Tapi, saya maksa untuk menyelamatkan Indonesia!” Teriaknya lagi.

Pedagang itu berlalu menuju gerbong belakang. Beberapa menit kemudian, isi teriakan yang sama kembali terdengar di gerbong yang gue tumpangi. Pedagang itu datang lagi, masih dengan produk “anti-tikus” andalannya. Dia berteriak lagi hal yang sama. Tentang lumpur Lapindo, krisis pangan, gagal panen, dan tentu saja tentang pesen “selamatkan Indonesia”.

Sampailah pedagang itu di dekat posisi gue berada. Dia bertanya, entah pada siapa, karena tidak gue perhatikan, “Bapak orang Indonesia, bukan? Ayo selamatkan Indonesia!” Kemudian dia kembali bersuara, “Ibu orang Indonesia, bukan?” entah ditujukan pada siapa pertanyaan itu, namun, ibu di samping gue itu langsung menimpalinya dengan jawaban: “Kamu sendiri orang Indonesia, bukan?” ujarnya dengan ketusnya.

Lalu, sedikit adu mulut pun terjadi.

Cowok: Eh, ada tikus yang tersinggung!

Cewek: Situ kali yang tikus!

Cowok: Ibu orang Indonesia, bukan?

Cewek: Iya.

Cowok: Ya, udah atuh ngapain sewot! Kayak sodaranya tikus aja!

Cewek: Elo tuh yang tikus! Dasar tikus!

Pedagang itu agak tertawa pelan. Cuek, dia melanjutkan langkahnya dan nyanyiannya tentang tikus. “Tikus itu harus dibasmi! Jangan dipelihara. Masa tikus dipelihara sih! Gimana jadinya Indonesia kalau orang-orangnya pada pelihara tikus! Ayo, selamatkan Indonesia!”

Dia terus berteriak, sampai suaranya tidak terdengar lagi dari pendengaran gue.

Entahlah, ada pertikaian apa sebelumnya antara si pedagang dan ibu-ibu itu, sampai mereka saling sewot satu sama lain. Yang ada dalam otak gue saat itu adalah: “Mungkin si ibu punya ternak tikus.”

2 thoughts on “Gara-Gara TIKUS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s