Conversation with The Stranger

Conversation with The Stranger

Tanggal 17 Maret 2011, adalah hari yang cukup aneh yang pernah gue alami.

Kejadian pertama adalah saat gue mau berangkat ke kampus, di angkot itu penumpangnya hanya ada 4 orang. Gue, seorang ibu dengan anaknya, dan seorang laki-laki yang duduk di samping pak supir yang sedang bekerja mengendarai angkot supaya baik jalannya. -_-“

Gue sedikit mendengar pembicaraan antar bapak supir dengan laki-laki itu. Gue pikir mereka itu berkawan atau ada hubungan saudara, atau sudah mengenal lama, karena mereka terdengar akrab sekali. Topik pembicaraan mereka pun cukup sensitif (apalagi untuk didengarkan oleh seorang “single” seperti gue).

Si laki-laki bercerita tentang pertemuannya dengan orang tua pacarnya. Bla bla bla. Sang supir pun memberikan nasehat. Berikut ini kira-kira pesannya:

“Kalau punya istri nanti, harus ada uang. Kalau cuma modal sayang aja, tapi gak ada uangnya, wajar kalau istri selingkuh,” begitu kata pak supir. “Kalau punya uang banyak, tapi suka main kasar, suka mukul, itu juga bisa bikin istri selingkuh,” lanjutnya. “Jadi, kalau punya istri nanti, harus kamu sayang juga kamu kasih uang. Iya kan, ya Bu?” lanjutnya sambil terus menanyakan pendapat si ibu yang duduk di belakangnya itu. Si ibu hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa. Tak lama kemudian si ibu turun, dan laki-laki itu pun turun juga. Tinggallah gue sendiri, penumpang di angkot itu.

Rupanya si supir ini emang gak bisa diem. Hobinya ngajak ngobrol orang lain. Gue pun akhirnya menjadi lawan bicaranya. Dia memulai perbincangannya dengan gue dengan melontarkan topik yang tadi dia bicarakan, tentang perempuan dan uang dan tindak kekerasan dan perselingkuhan dan kewajaran akan hal itu semua. Hingga kemudian dia bertanya:

Sopir: “Teteh sudah berkeluarga?”

Gue: “Belum pak.”

Sopir: “Kalau nanti punya pacar, terus dia suka marah-marah ngambekan, itu udah tanda-tanda kalau dia gak baik, teh! Apalagi kalau udah berani main pukul. Langsung putusin aja! Gak ada gunanya kalau diterusin.”

Gue: Hahahha. Iya, pak. *gue udah mau turun, nih! udah nyiapain uang ongkos, eh tapi si bapak supir masih mau ngajak bicara lagi*

Supir: Teteh kuliah? Di mana?

Gue: Di Depok, pak. Kuliah di UI.

Supir: Jurusannya apa?

Gue: Ekonomi, pak. Manajemen.

Supir: Kenapa gak ngambil Bahasa aja?

Gue: Gak suka, pak. *senyum*

Supir: Saya punya anak sekarang, mau saya masukin ke Bahasa aja. Soalnya percuma, teh kalau sekolah tinggi-tinggi tapi gak bisa bahasa.

Gue: *senyujm* Iya, pak.

Supir: Do you speak English?

Gue: *agak heran sedikit* Ya, I can. Just a little. *Cengengesan*

Supir: Bahasa Inggrisnya abu-abu apa?

Gue: Apa pak, aku-aku? *maklum, gak begitu jelas karena kondisi sekitar yang berisik*

Beliau pun mengulang pertanyaannya.

Gue: Oh, grey pak.

Supir: *senyum-senyum, ngangguk-ngangguk* Iya, soalnya kan jarang sekali warna itu disebut. Biasanya kan, yang sering orang denger itu warna merah, biru. Kalau abu-abu jarang.

No more talking, I had to get off.

Kejadian aneh yang kedua adalah saat gue lagi jalan dengan agak terburu-buru menuju Stasiun Bogor, tiba-tiba gue berpapasan dengan seorang bapak yang entah siapa, dia menyodorkan sepucuk kertas pada gue. Gue tadinya berpikir kalau dia mau nanyain alamat, gak taunya kertas yang dia kasih ke gue adalah kertas kecil warna ungu dengan tulisan KRL Pakuan Ekspres, dengan nominal rupiah yang tertera adalah Rp 11.000, lalu dengan singkatnya dia bilang, “Mau naik kereta, kan? Saya gak jadi naik, ini tiketnya untuk kamu aja.” gue bingung, heran, takjub, gue cuma bisa bilang, “Terima kasih, Pak.” sambil bapak itu pergi berlalu dengan terburu-buru menjauhi stasiun. Okey, itu tiket langsung gue tuker dengan uang tunai, kemudian gue beli tiket kereta ekonomi biasa yang sudah sering gue tumpangi. Thank you, Bapak!

Kejadian aneh berikutnya adalah saat gue pengen pulang ke Bogor. Gue nunggu kereta Ekonomi AC di peron 2 Stasiun UI. Hujan mulai turun rintik-rintik, tiba-tiba seorang perempuan dengan tiba-tiba berujar, “Hujannya suka tiba-tiba gini, ya!” Gue pun hanya menimpalinya dengan tersenyum dan berkata “iya”. Kemudian dia memulai percakapannya dengan gue. Tema awal yang dia bicarakan adalah tentang dunia SMA. Dia dulu kuliah di Atmajaya jurusan Psikologi Pendidikan, dia bercerita tentang kebanyakan teman-temannya yang bersekolah SMA di Tarakanita, Pangudi Luhur, juga cerita tentang pertengkaran antar pelajar di SMA 70 dan SMA 6 Jakarta, dia juga bilang bahwa kebanyakan tawuran dan perkelahian itu terjadi cuma gara-gara cewek sekolah itu yang diincer sama anak sekolah lain. Sampai acara pensi suatu sekolah, harus diwarnai dengan perkelahian gara-gara masalah cewek juga.

Kemudian dia cerita tentang adiknya yang sekarang sedang duduk di bangku SMA juga, dia bilang bahwa sebenarnya adiknya itu pintar, tapi gara-gara waktu ujian masuk SMA negeri di Depok, pensil 2B yang digunakan itu palsu, akhirnya dia terpaksa harus sekolah di sekolah swasta. Dia bahkan sampai berpendapat bahwa adiknya harus diberi dorongan atau tekanan dulu, baru dia mau maju. Hal itu semakin meyakinkan gue bahwa anak-anak muda jaman sekarang yang lagi beredar, kebanyakan kelahiran tahun di atas 1990, mereka rata-rata labil. Dia pun mengiyakan.

Lama mengobrol dengan akrabnya, dia menawarkan tangannya untuk berkenalan. Perempuan itu menyebutkan namanya yang super panjang, gue gak hapal nama lengkapnya aja, gue pun langsung bertanya, “dipanggilnya apa nih?” Dia langsung menjawabnya. *gak perlu gue sebut, ya*

Kemudian dia bercerita tentang pekerjaannya sekarang. Dia adalah guru di sekolah Katolik di Jakarta. Dia juga menjadi pendidik untuk anak-anak yang menderita autisme. Dia bercerita tentang gaya berbusananya di tempat dia bekerja, yang menurut kawannya “terlalu tua”. Padahal wajahnya tidak tua-tua amat. Bahkan gue pikir usianya masih sekitar 24 atau 25 tahun. Gak taunya, usia dia sudah 29 tahun.

Ada perempuan tua sedang berjalan di peron seberang, dia langsung mengganti topik pembicaraan menjadi: “Biar gayanya kayak gitu,” ujarnya sambil menunjuk perempuan tua itu, “Bisa jadi dia dosen, loh! Gue pernah tuh, ngalamin kayak gitu!”

Kemudian dia pun bercerita tentang pengalamannya bertemu dengan perempuan berumur di kampusnya, yang gak taunya adalah dosen, dan kawannya malah mengajak dia ikut pergi ke Depok dengan menumpang mobil ibu dosen itu. Dia bercerita bahwa ibu itu adalah seorang guru besar di Psikologi UI, namun juga turut mengajar di Atmajaya. Dia benar-benar ekspresif dalam bercerita, dia seolah mengulang kembali bagaimana cara dosen itu bertanya “di mana rumah kamu?” padanya, dan dia pun memperagakan bagaimana cara dia menjawab.

Kereta yang ditunggu akhirnya datang. Kami masuk di gerbong khusus wanita. Perbincangan masih berlanjut. Dia akan turun di Stasiun Citayam.

Dia kemudian menyinggung hal yang paling sensitif untuk mahasiswa seperti gue. SKRIPSI.

Dia pun kemudian bercerita tentang bagaimana proses dia mengerjakan skripsi, apa judulnya, isinya tentang apa, bagaimana cara memcari datanya, bagaimana dosen-dosen pembimbing dan pengujinya, dan dia pun berkata, “Kalau udah sidang, udah gak peduli lagi deh lu mau dapet nilai berapa untuk skripsi lu, yang penting lulus.” Iya benar sekali.

Dia sangat bersemangat menceritakan skripsinya itu, karena gue bilang sama dia kalau gue udah semester 8 dan sedang menyusun skripsi. Dia bercerita lagi tentang pentingnya ketemu dosen pembimbing, pentingnya mengetahui apa yang diinginkan dosen pembimbing, dan segala seluk-beluk tentang menyusun skripsi sampai selesai. Dia pun sempat bercerita bahwa ada salah satu dosen pengujinya yang memuji skripsi karyanya itu, karena tema yang diangkat sangat menarik. Tapi, dia pun berkata bahwa ternyata nilai skripsinya tidak begitu memuaskan karena ulahnya yang menyinggung salah dosen penguji di ruang sidangnya. Tapi dia sudah tidak peduli lagi tentang hal itu.

Stasiun Citayam udah menanti tak jauh dari letak kereta kami berada, dia pun mulai berpamitan. Pesannya sebelum kami berpisah adalah, “Semangat, ya Ira. Sukses. Jangan lupa berdoa, ya! Berdoa itu penting banget.”

Thanks kakak. I will…

Fiuhhh. Gue mendapat pelajaran banyak sekali hari itu.

1. Jangan mau disakiti laki-laki

2. Bahasa Inggris itu penting

3. Ikhlas. Berbaik hatilah, bahkan pada orang lain yang tidak kita kenal.

4. Semangat ngerjain skripsi

5. Berdoa itu penting

6. *last but not least* Jangan pernah takut untuk bertemu dan mengenal orang lain yang berbeda usia, profesi, agama, suku, pandangan, atau apapun.

Oiya, tanggal 17 juga ada kawan gue yang ulang tahun loh! Gue jarang ketemu dia. Jarang sekali. Dan percakapan dengan dia, lewat SMS kemarin malam, walau singkat dan sedikit, tapi cukup menyenangkan. Hahhaa… Happy birthday **, and hope all your wish come true!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s