Angkot

Angkot

Selain sebagai Kota Hujan, Bogor juga dikenal dengan sebutan kota sejuta angkot. Ya, ketika Anda menginjakkan kaki di kota ini, sejauh mata memandang di jalan raya, pasti angkot lah yang mendominasi. Dan di postingan gue kali ini, gue akan membahas mengenai pengalaman gue naik angkot di Bogor pada malam hari ini, sepulang gue dari kampus.

Gue naik angkot warna biru, nomor 08, jurusan Ps. Anyar – Citeureup. Kita sebut saja dia dengan nama “SHUVIT”. Si Shuvit yang satu ini memutar lagu band dalam negeri, seperti Ungu dan sejenisnya dengan suara yang stereo. Speker yang ada di bagian penumpang paling pojok, mengeluarkan suara yang nyaring dan kencangnya. Di kaca spion tengah ada stiker bertuliskan “Gadis manis berhati iblis” yang sukses membuat gue hampir ngakak di angkot itu.

Sampailah Shuvit di jalan Warung Jambu, ada penumpang yang naik di situ, dan dia langsung duduk di bangku penumpang dekat dengan speker itu. Tak berapa lama kemudian perempuan di samping gue heboh. Rupanya ada kecoa di bawahnya. Orang yang baru naik tadi pun tak kalah heboh, dia langsung minta Shuvit untuk berhenti, dia pun turun sambil berkata, “Banyak banget kecoa di sini!”

Dan benar saja, seekor kecoa sedang merangkak di dekat sepatu perempuan di samping gue. Kawannya yang lain ikut juga menampakkan diri. Co-pilot, alias asisten supir angkot yang duduk di depan, akhirnya sibuk menangkap kawanan kecoa liar itu. Satu, dua, tiga telah tertangkap. Terakhir muncul lagi, dan kembali menjadi sasaran tangkap si asisten supir.

Gue yang duduk di belakang sopir, mulai menguping pembicaraan antara supir dan asistennya ini. Pembicaraan mereka berkisar pada bagaimana cara mengusir kecoa.

Si asisten menyarankan untuk menyemprot angkot itu dengan air, namun si supir menolak. Dia bilang, gak akan mempan. Pasti kecoa masih ada dan ada lagi. Si asisten tidak menyerah, dia kembali muncul dengan ide menggunakan cairan molto atau karbol untuk mengusir kecoa. Dia yakin dengan begitu maka kecoa tidak ada yang mau hidup di situ. Namun, si supir tetap keukeuh bahwa si kecoa tidak akan bisa hilang. Satu-satunya cara untuk menghilangkan kecoa itu, kata si sopir, adalah dengan menyemprotkan cairan bensin dan membakarnya. Asisten pun langsung merespon, “itu sih, semuanya yang bakal ilang! Bukan cuma kecoanya!”

Ini cuma sedikit cerita yang kurang menyenangkan dari sebuah angkutan umum di Bogor. Tapi, tidak semua angkot di Kota Hujan seperti ini, banyak juga kok yang mempunyai fasilitas dengan kualitas baik dan tanpa serangga kotor macam kecoa begini.

Semoga tulisan gue ini gak membuat calon wisatawan Bogor mengurungkan niatnya untuk menjelajahi salah satu bagian dari Nusantara yang luas ini, ya! :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s