Antara Uang dan Saya

Antara Uang dan Saya

Jam sudah menunjukkan pukul 15.15, saya belum makan siang, padahal tadi nemenin temen saya makan siang di kampus. Tapi saya keukeuh untuk makan di Bogor saja. Saya sadar bahwa uang saya saat itu hanya tinggal 10 ribu sekian, dan saya sadar bahwa saya harus mengambil uang tunai dari ATM. Namun, saya mengurungkan niat untuk mengambil uang di ATM kampus, dengan alasan di Bogor pun ada.

Sesampainya di Bogor, saya sadar bahwa saya harus mencari ATM BNI segera, untuk mengambil uang untuk makan saya, apalagi perut sudah memulai konsernya. Sayangnya, tidak ada ATM BNI di dekat stasiun Bogor. Saya pikir, mungkin saya akan mengambil uang tunai di ATM BNI yang berada di Hotel Salak, yang jaraknya sekitar 10 menit berjalan kaki. Namun, karena malas, panas, dan bawaan sedang tidak ringan, saya memutuskan untuk mengambil uang di Bank BNI Pajajaran, dekat dengan tempat makan yang ingin saya tuju.

Turun dari angkot, dengan santai sambil mendengarkan lagu yang keluar dari earphone saya, saya menyebrang jalan menuju ATM yang diharapkan. Menunggu sekitar 1 menit, dua orang yang ada di dalam ATM itu bertanya pada satpam penjaga, “ATM-nya gak bisa dipakai, ya Pak?” Kemudian bapak Satpam itu pun menjawab, “Sepertinya sedang ada masalah jaringan.” Weeww, bukannya bilang dari tadi.

Dompet sudah memerah, tanda sisa uang di dalamnya sudah minimal. Perut pun begitu, sudah luar biasa harus diisi ulang. Tapi ATM tidak juga gue temukan.

Setelah berjalan kaki sekitar 5 menitan, gue menemukan papan bertuliskan “ATM Mandiri”. Ya, beruntunglah gue karena memegang juga ATM Mandiri, walaupun uang di dalamnya bukanlah uang gue, tapi gue pinjem dulu sebentar aja.

Sesampainya gue di depan ATM, rupanya ada petugas yang sedang mengisi uang di ATM tersebut. Baiklahhh, lama lagi saya menunggu. Namun, perut masih terus membunyikan sinyal-sinyal kelaparannya. Di samping ATM yang sedang diisi uang itu, ada juga ATM BSM, oke gue pun memutuskan untuk mengambil uang di ATM tersebut. Niat cuma mau ngambil 50 ribu, ehhh, gak boleh sama ATM-nya, minimal mesti ambil 100 ribu! Mau tidak mau. Lapar tidak bisa dikompromi. Dan saat gue membuka pintu ATM, gue melihat petugas yang mau ngisi uang di ATM sebelah itu sedang beres-beres, tanda pengisian uang ATM telah selesai. Okeee….

Hmm, gue bener-bener telah melanggar apa yang didongengkan oleh Paman Keynes pada saya mengenai motif manusia memegang uang. Paman bilang, kita memegang uang untuk melakukan transaksi, untuk spekulasi, daaaaannnn untuk berjaga-jaga! Gue berpikir bahwa dengan membawa ATM maka kita bisa berjaga-jaga, namun ternyata gue salah, uang yang dimaksud Paman Keynes adalah uang tunai yang benar-benar DIPEGANG oleh kita, bukan uang yang dipegang oleh mesin ATM. Pelajaran berharga banget hari ini, apalagi gue tau kalau uang itu gue butuhkan untuk melakukan transaksi berupa membeli makanan. Waktu jamannya Paman Keynes berjaya, ada mesin ATM gak yaaa?

*Segini aja gue yang masih ada uang di ATM, udah ngerasa tersiksa dengan gak punya uang tunai, gimana dengan mereka yang gak punya ATM dan gak punya uang tunai yaa… :((

2 thoughts on “Antara Uang dan Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s