Kehidupan Setelah Kampus

Kehidupan Setelah Kampus

Waktu jaman SD dulu, rasanya pengen banget cepet-cepet kuliah, gara-gara nonton sinetron “Tersayang” di TV tentang kisah cinta Mayang (Jihan Fahira) dan Dion (Anjasmara) yang terkenal seantero jagat raya, sampai-sampai topi dengan tulisan “Tersayang” lengkap dengan sekuntum mawar merah laris-manis di pasarannya pada saat itu.

Giliran udah duduk di bangku kuliah, gue malah kebayang-bayang dengan kehidupan semasa SMA yang berapi-api. Penuh dengan kisah seru tentang persahabatan, organisasi, bahkan cerita cinta pemuda-pemudi yang selalu mewarnai hidup gue saat itu, walaupun harus gue akui “tidak pernah ada yang berhasil menjadi kekasih hatiku”. But, to be honest, I love being a student in the same uniform with others. Walaupun, kami tetap berbeda dalam nasib.

Namun, yang namanya waktu tetap berjalan, gak kerasa jangka waktu kuliah yang sudah gue janjikan pada orang tua akan segera kadaluarsa. Pada semester ke-delapan gue kuliah, udah gak ada lagi khayalan tentang masa SMA, udah gak ada lagi mimpi-mimpi pengen balik ke bangku SMA, senikmat apapun masa SMA yang gue lewati tanpa status “pacaran”. Di semester 8 itu yang ada hanya tekanan dari kawan keangkatan yang sudah diceburin di kolam makara, karena dia sudah dinyatakan lulus sidang skripsi atau karya akhirnya. Yang ada hanya tekanan yang berasal dari orang-orang terdekat atau pun yang jauh, yang bertanya tentang “kapan lulus?”. Yang ada hanya tekanan dari Dosen Pembimbing skripsi (walaupun tidak pernah berniat menekan gue), namun tetap rasanya seperti tertekan saat janji untuk memberikan progress karya akhir setiap pekan terpaksa tidak terlaksana karena begitu banyak alasan kenapa “si skripsi itu belum berjalan-jalan juga”.

Tiga bulan menjelang deadline karya akhir dari Jurusan pun senantiasa menghantui kehidupan gue. Hampir setiap hari (Senin-Jumat) gue ke Kampus, langsung menuju ke Gedung Perpustakaan, meminjam skripsi acuan, buka laptop, dan mulai beraktivitas di ruang ajaib itu. Lumayan lah, 3 atau 5 halaman setiap harinya. Namun, justru semakin dekat dengan tenggat waktunya, semakin produktif gue merasa. Hahhaha… Sampai akhirnya, “si dia” yang mengalihkan duniaku selama satu semester ini selesai juga.

Selanjutnya, menikmati detik-detik menunggu jadwal sidang. Belajar lagi, baca-baca lagi apa aja yang sudah ditulis. Kemudian sidang, dan akhirnya mencelupkan diri di kolam makara dengan air hijaunya yang memikat katak.

Bagaimanapun juga, kolam Makara itu layaknya oasis di padang pasir kehidupan kampus. Menghilangkan dahaga mahasiswa yang ingin mencapai Gelar Sarjana Ekonomi dari kampus ini.

Senang? Sudah pasti. Dinyatakan lulus dengan nilai yang tidak bisa dibilang jelek (karena memang nilainya bagus, super bagussss…)

Namun, tantangan di depan itu yang lebih menantang, lebih menegangkan, lebih mencekam, lebih menyeramkan, lebih membuat jantung berdetak kencang, lebih hebat dari apapun yang telah gue alami dalam hidup ini. Ibarat business life cycle, lulus dari kampus ini dengan gelar Sarjana Ekonomi, kita menancapkan pilar hidup ini pada jenjang “Late Growth” hampir mendekati “Maturity”. Di mana kompetisi makin besar tercipta, di mana kita harus punya “nilai lebih” dibandingkan kompetitor kita yang lain untuk bisa bertahan hidup bahkan memenangkan kompetisi ini.

Nah, di sinilah (setelah lulus dari kuliah inilah) kita harus benar-benar mengenal diri kita seperti apa. Apa kelebihan kita. Apa kekurangan kita. Apa yang kita miliki dan orang lain tidak miliki. Apa yang membuat kita unggul. Dan yang paling penting lagi, apa yang kita inginkan. Bagus kalau kita sudah bisa mencari tau jawaban itu semua. Namun gue? Hmmm… Masih galau.

Jangan mencontoh gue yang sering galau ini yaa…
Gue aja sekarang masih belajar mengenal diri gue, apa kelebihan dan kekurangan gue, apa impian gue, mau seperti apa gue nanti dalam 3, 5, 10, atau 15 tahun ke depan. Ungkapan “go with the flow” gak berlaku untuk kehidupan setelah kampus. Menjadi wajar kalau orang lain kesulitan mengenal gue, karena gue sendiri pun sulit mendefinisikan diri pribadi ini.

Pantes, gue belum punya pacar sampe sekarang. Hhmmm….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s