Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri

Museum ini terletak di kawasan Kota Tua, Jakarta, tidak jauh Stasiun Jakarta Kota. Dahulunya gedung ini merupakan Nederlansche Handel Maatschappijj (NHM) sebuah Bank pada zaman Belanda silam.

Sama seperti museum lain di Jakarta, setiap hari Senin museum ini tidak menerima kunjungan alias tutup. Harga tiket masuknya sendiri Rp2,000 saja. Untuk pelajar ataupun nasabah Bank Mandiri, gratis biaya masuk.

Seperti gedung peninggalan Belanda pada umumnya, gedung ini pun mempunyai langit-langit yang tinggi, tiang yang kokoh besar, dan suasana yang temaram. Di dalamnya ada banyak koleksi alat-alat yang digunakan dalam perbankan pada masa itu (Indonesia merdeka hingga berdirinya Bank Mandiri).

Ada alat timbang yang digunakan untuk menimbang dokumen.

Bermacam Alat Timbang

Ada bermacam-macam mesin tik yang dipajang sebagai “wall-paper” di salah satu sisi dindingnya. Dan ini merupakan bagian dari museum yang paling saya sukai.

Mesin Tik dari Masa ke Masa

Ada berbagai macam surat berharga, seperti deposito-bilyet, saham, dan lain-lain.

Contoh Deposito-Bilyet

Ada beberapa kalkulator yang memiliki peran penting dalam kegiatan operasi bank sehari-hari, juga diperlihatkan beberapa mesin ATM atau yang dulunya disebut sebagai “mesin lubang di tembok” oleh sang penemu pertamanya Luther Simjian (1939) yang ukurannya luar biasa besar. (Maaf, lupa difoto)

Ada beberapa ruangan di tiga lantai yang saya kunjungi. Mulai dari ruang Kas Cina, yang di dalamnya berupa patung-patung orang yang sedang bekerja mengetik, memegang sempoa dan lain-lain di dalam ruangan yang dikelilingi dengan jeruji besi.

Ruang Kas Cina

Ruangan yang lainnya yang menarik hati saya untuk berani melangkahkan kaki ke ruang itu adalah Ruang Brankas atau Kluis atau Khasanah, ruangannya cukup besar, sepi, dan sedikit menyeramkan (karena saya sendirian). Di dalamnya ada beberapa peti uang dari besi ataupun kayu, ada beberapa lemari brankas berisi tumpukan uang dan ada juga ruangan yang berisi gundukan emas batangan (yang tentu saja, bukan emas sungguhan).

Pintu Masuk Kluis
Tumpukan Emas Batangan

Berjalan terus ke dalam ruang Kluis itu, kita akan langsung memasuki ruangan yang dipenuhi dengan “Safe Deposit Box”. Kalau ada yang sudah menonton film Jason Statham yang berjudul The Bank Job, tentunya sudah terbayangkan bagaimana rupa si ruangan “Safe Deposit Box” ini.

Safe Deposit Box

Di lantai atas, setelah kita melalui tangga dengan hiasan kaca patri pada dindingnya, kita akan mengetahui seperti apa ruang rapat besar yang dimiliki oleh Bank ini pada zaman dahulu. Di dalam ruang rapat itu, terdapat banyak sekali foto para pemimpin Bank Mandiri dan para pendiri Bank-Bank sebelumnya (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Expor-Impor Indonesia, Bank Pembangunan Indonesia), hingga pemimpin Bank NHM pada zaman Belanda lalu.

Kaca Patri yang Menggambarkan 4 Musim di Belanda dan Musim di Nusantara

Ada beberapa ruangan yang memajang beberapa prestasi yang telah dicapai bank tersebut, koleksi uang zaman dulu yang dipamerkan, berbagai macam merchandise yang disediakan bank ini, hingga ruangan yang memperlihatkan tentang pasukan keamanan yang dimilikinya dengan beberapa koleksi senjata yang dimiliki.

Sejarah mengenai berdirinya Bank Mandiri pun diceritakan dalam sebuah tulisan yang dipajang di salah satu ruangan di museum tersebut.

Pada dasarnya museum ini sudah cukup baik dalam menampilkan bagaimana kondisi perbankan pada saat awal tahun 1930 hingga perkembangannya di saat ini. Banyak informasi yang disajikan bagi para pengunjung, hanya saja kebanyakan dari informasi tersebut harus saya peroleh dengan membaca papan tulisan, padahal kalau bisa lebih canggih lagi seperti yang terdapat di Museum Bank Indonesia, pastinya pengunjung yang “agak malas” membaca papan tulisan yang panjang dan tinggi, bisa diakomodasi dengan layar monitor yang tinggal disentuh layarnya, lalu dongeng pun tersedia untuk disimak.

Untuk kebutuhan fotografi, jangan ditanya, saya rasa setiap sudut Kota Tua Jakarta sangat menarik lensa kamera untuk mengabadikannya, tapi izin dulu yaa untuk kamera profesional.

Gak ada salahnya kok, untuk berkunjung ke museum ini sekitar 2 jam untuk menikmati Bank dengan cara yang lain dari biasanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s