Random Walk Theory

Random Walk Theory

Ini bukan tentang teori dalam pasar modal, ya… Di mana harga saham di masa lalu tidak dapat memprediksi harga saham di masa datang, atau tidak ada kecenderungan suatu trend (meningkat ataupun menurun), melainkan random, acak, gak jelas.
Ya, hari ini benar-benar random. Benar-benar gak jelas. Awalnya gue merasa amat sangat jelas dengan tujuan gue bangun pagi dan langsung menuju stasiun Bogor. Niat awal mau ke daerah SCBD untuk interview kerja di salah satu perusahaan di sana. Tapi, di kereta telepon gue berdering. Interviewernya tidak bisa. Dan mesti dijadwal ulang. Akhirnya, gue turun di Stasiun UI. Liat-liat jadwal kereta yang baru (karena ada pembatalan 29 jadwal KRL via Bogor). Tak lama setelah itu, langsung kembali ke rumah.

Sampai di rumah, main game dulu sebentar, kemudian dapet kabar berita duka dari temen. Niat awal mau pergi melayat ke rumah duka sore hari bareng temen. Jam setengah 5, gue sudah ada di sebuah angkot di Wr. Jambu, hendak menuju Terminal Baranang Siang, tempat janjian sama teman. Ehh, gak taunya dia gak jadi pergi. Karena terlanjur udah ada di angkot dan sayang kalau mau balik lagi ke rumah saat itu juga, gue memutuskan untuk menikmati dulu suasana di luar rumah ini.

Ekalokasari Plaza adalah tempat yang gue tuju. Simple aja, gue pilih tempat ini karena angkot yang gue tumpangin terakhir berhenti di daerah itu.

Mengninjakkan kaki di tempat itu, seketika itu pula gue bingung! “What do I do here??” Itu terus yang berkecamuk di otak gue saat itu. Random, gue naik eskalator, masuk ke toko buku, pick one book, dan yang gue baca adalah buku yang berisikan tentang Analisis Teknikal yang digunakan di Pasar Modal. Oleh karena itu, gue pakai salah satu istilah dalam buku itu di judul tulisan ini.

Selesai itu, gue ke foodmart-nya, beli beberapa hal yang gue kira butuh di kemudian hari. Lalu beranjak pergi meninggalkan gedung ini.

Jalan sendirian di luar gedung Plaza ini, bikin pikiran gue melayang, yang seharusnya gue nyebrang jalan dan naik angkot, malah gak jadi saking gue melayangnya. Kaki gue terus melangkah, sampai gue sadar sudah cukup jauh gue berjalan, giliran mau nyebrang, gak jadi lagi, gara-gara gak ada zebra cross, dan tempatnya cukup gelap. Akhirnya gue telusuri terus jalan Pajajaran itu, sambil gue survey warung Saras yang mana yang agak penuh dan banyak pengunjung. Hehhe… Sampai gue bener-bener ngeh, di mana lokasi Rumah Gaya berada, dan ternyata ada Hotel bermerk “Hotel Ririn” di Kota tempat gue tinggal ini.

Perjalanan gue lanjutkan, sampai tiba di depan Giant-McD, di situlah gue baru berani untuk nyebrang jalan raya ini. Dan kemudian menikmati pemandangan lampu-lampu kota Bogor yang indah di balik Masjid Raya Bogor.

What a night! What a random walk!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s