Nikmatnya Tidur

Nikmatnya Tidur

Tidur di kasur empuk, dengan tumpukan bantal dan guling yang empuk memang nikmat. Namun, ketika kita benar-benar merasakan rasa kantuk yang luar biasa, tempat dan posisi bagaimanapun tetap akan terasa nikmat untuk tidur. Berikut ini ada cerita dari seseorang mengenai pengalamannya tidur. Sebut saja dia, Mawar.

Pengalaman tidur Mawar yang seperti Hamtaro – Hamtaro tidur di mana saja – dimulainya sejak zaman sekolah di tingkat menengah, di salah satu SMP terkemuka di Kota Hujan Bogor. Suatu ketika kelasnya sedang mempersiapkan dekorasi kelas untuk peringatan 17 Agustus, Kemerdekaan RI. Di kala rekan-rekannya yang lain sedang asyik dengan sapu dan peralatan bersih-bersih dan aksesoris dekorasi lainnya, si Mawar dengan santainya mengambil 3 buah bangku kayu di kelas itu, lalu merapatkannya satu sama lain. Di tengah ruang kelas dengan kebisingannya siswa mendekorasi ruangan, dia dengan nikmatnya tidur dan beristirahat di atas kursi kayu keras itu.

Di bangku SMA, dia juga bisa menikmati indahnya tidur di ruangan yang benar-benar nyaman untuk tidur, ruangan yang sepi, di lantai 3 sebuah gedung sekolah, ruangan ini bernama Perpustakaan. Yaa, dengan lagu yang mengalun dari radio di walkman-nya, dia bisa tertidur pulas di meja baca dengan sekat-sekat di sekelilingnya.

Tidur di Perpustakaan kampus pun, pernah dia alami. Meja baca yang terletak dipojok ruangan dan jauh dari pandangan orang-orang lalu-lalang adalah “tempat tidur” favoritnya di ruangan itu.

Kalau tidur di tempat sepi dengan posisi terduduk memang nyaman, namun kalau tertidur di tempat ramai dengan posisi berdiri? Wahhh, jangan salah… Si Mawar pun pernah mengalaminya! Hal ini terjadi di tahun 2008-an. Saat dia harus pulang dari kampus di daerah Depok sudah agak larut malam, namun dia nekad mau pulang ke rumahnya di Bogor malam itu juga. Malam itu, kereta kelas ekonomi tujuan Bogor masih padat penumpang. Saat sudah berada aman di tengah-tengah gerbong, di tengah kerumunan penumpang, sambil memeluk tasnya, Mawar mulai terkantuk parah. Dengan kepadatan penumpang berkeringat di gerbong itu, posisi berdirinya tetap kokoh tak terjatuhkan walaupun kereta tetap melaju kencang. Pejamkan matamu, dan terpulaslah kamu.

Kantor. Pagi-pagi harus ke kantor, padahal malemnya baru aja ngelembur, baru nyampe di kosan jam 1 pagi. Eh, udah mesti nyampe di kantor jam 7 pagi. Rasa kantuk yang diderita Mawar saat itu luar biasa dahsyat. Berkali-kali dia terkantuk-kantuk di depan desktop kerjanya. Tak tahan lagi, dia pun segera ke kamar kecil. Kamar itu sudah ibarat kamar tidur untuk dia. Ditutupnya kloset duduk di salah satu bilik di toilet itu. Cari posisi tidur paling nyaman, sandarkan kepala di tempat gulungan tisu, 30 menit tertidur sudah cukup rasanya.

Di tempat privat seperti toilet, dia bisa tertidur nikmat. Di tempat umum sambil menunggu moda transportasi tiba pun pernah dia alami. Saat itu sudah jam 9 malam di Stasiun UI. Belum ada kabar kereta tujuan Bogor sudah berada di stasiun mana. Dengan rasa kantuk yang menguasainya, dia pun terduduk lemah, lesu, tak berdaya. Tertunduk di atas tas yang dipeluknya. Terpejam mata sulit dikuasainya. Tiba-tiba sebuah suara “Tuuutttt!!” menggelegar dan membuat Mawar tersentak. Tersadarkan ada sebuah kereta kelas ekonomi yang beberapa detik kemudian bergerak perlahan melaju pergi menjauhinya, tanpa disadarinya kapan kereta itu datang.

Satu pengalaman lagi tentang menunggu moda transportasi, baru saja Mawar alami beberapa hari yang lalu. Pulang dari kantor pukul 9 malam, dia menggunakan layanan Transjakarta Busway dari Halte GBK, menuju daerah Cawang. Saat bus yang dia tumpangi mendekati halte Cawang BNN, dia benar-benar mengantuk. Satu halte lagi dia harus transit, pindah koridor busway. Tiba di Halte Cawang UKI, dia pun turun hendak menunggu busway tujuan Kp. Melayu/Ancol. Limamenit berdiri, tidak ada juga bus yang dinanti datang, yang selalu tiba adalah bus tujuan Priok/Grogol. Kembali rasa kantuk merajai dirinya. Sambil berdiri dan bersandar di pinggir pintu halte menunggu bus, matanya terpejam. Terus terpejam. Saat menurutnya sudah terlalu lama dia berdiri, dilihatnya orang-orang di hadapannya tadi sudah tidak ada. Kini wajah mereka berubah, sudah digantikan dengan wajah yang lain lagi. Dilihatnya layar ponselnya, sudah menunjukkan pukul 10.20-an malam. Selama itu dia menunggu busway, namun tak ada satu pun bus tujuan Kp. Melayu yang datang. Atau sebenarnya sudah ada beberapa yang datang, namun tak ada satu pun bus yang berhasil menyadarkannya dari tidur nikmatnya.

Demikian dulu cerita pengalaman kenikmatan tidur di mana saja ala si Mawar. Mungkin lain kali, Mawar mau cerita lagi jadi saya bisa menulis lagi di sini tentang pengalaman Mawar, si Hamtaro-yang-tidur-dimana-saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s