Sh*t Happens

Sh*t Happens

Kemarin adalah hari yang menggelisahkan. Padahal gue udah memulai hari dengan sarapan mie ayam di daerah Sabang. Rupanya awal yang baik belum tentu bebas rintangan di depannya.

Gue udah punya rencana bakal ngerjain apa aja setibanya di kantor. Gue mau bikin slide tentang departemen gue untuk orientasi rekan satu tim yang baru. Selesai itu gue mau melanjutkan tugas bulanan gue, yaitu bikin slide dan review operational dan financial performance perusahaan dan anak perusahaan. Tujuan gue adalah: pulang tepat waktu.

Well, ternyata kenyataan yang terjadi tidak demikian. Paginya menyenangkan, beres sarapan, ke kantor lalu bikin slide orientasi. Tiba-tiba jam 10 datanglah email. Tugas dadakan, yang ga bisa ditolak. Bikin proyeksi cashflow dan income statement salah satu anak perusahaan dengan 2 skenario perbandingan. Karena besok pagi bakal diajukan ke bos besar.

Setelah makan siang, gue langsung kebut ngerjainnya. Target jam 5 sore kelar. Ternyata jam 6 baru bisa gue kirim. Gue pikir usai sudah. Ternyata langsung diskusi. Dan ada yang harus direvisi. Lalu rekan satu tim gue ngeliat file yang gue punya, banyak item yang udah mati link-nya. Lalu dia bilang, “Lama-lama file kamu bisa jadi sampah, Ra.”
Jam 9 akhirnya gue bisa pulang.

Sampai di rumah, ada temen gue rupanya datang. Kawan lama. Dan membahas tentang masa depan perempuan. Betapa siapnya dia jadi ibu, jadi istri. Kemudian dia menasehati gue tentang betapa pentingnya bisa masak, bisa mendidik anak. Sedangkan gue adalah sesosok manusia yang ga bisa masak, bahkan nyalain kompor aja malas rasanya.

Sh*t happens.

Sh*t adalah ketika gue sadar kalau ada yang mereka bilang itu benar. Bahwa kalau gue membiarkan file kerjaan gue begitu terus keadaannya, file itu bakal jadi sampah. Bahwa kalau gue terus-terusan ga bisa masak bahkan ga mau mencoba untuk belajar masak, gue gak pernah bisa ngerasain kebahagiaan keluarga gue waktu makan masakan gue. Walaupun belum tentu enak. Seenggaknya keluarga gue bisa ngobrolin hasil masakan gue itu. Bahwa kalau gue belum punya kesiapan untuk menjadi istri dan ibu yang baik, gue akan selamanya sendiri.

Sh*t happens, darl..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s