Kaus Kaki Kehidupan

Kaus Kaki Kehidupan

Setiap nonton TV, di tanggal-tanggal ini temanya pasti seputar perayaan Natal, santa klaus, pohon natal, dan hadiah-hadiah.
Ada satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu adanya kaus kaki ukuran besar berwarna merah atau hijau yang menggantung di dekat perapian di setiap rumah dalam film bertema Natal yang saya tonton di TV.

Salah satu temen saya yang merayakan Natal pernah cerita, bahwa kaus kaki itu adalah tradisi dari Bangsa Barat setiap perayaan natal, di mana ada harapan dari orang-orang yang menggantungkan kaus kaki itu untuk memperoleh hadiah dari santa klaus.

Sehubungan dengan menggantungkan harapan, sekarang saya ingin bercerita tentang harapan dan kehidupan nyata, yang saya beri judul “Kaus Kaki Kehidupan”.

Setiap dari kita pasti punya harapan dalam hidup. Seseorang yang berhenti berharap, tidak akan pernah merasa hidup. Oleh karena itu, setiap pagi kita bangun dan beraktivitas kita selalu berdoa, berharap akan datangnya kebaikan di hari ini.

Namun terkadang, harapan yang kita tanam itu terkubur tapi tidak bertumbuh. Dia mendekam dalam tanah pengharapan. Tidak ada air yang dapat menyuburkan tanah itu, tak ada pupuk yang kita usahakan untuk menumbuhkan bibit harapan itu. Atau barangkali, malah kita menanam harapan di tanah yang salah, tanah yang tidak tepat untuk tumbuh kembangnya.

Seperti apa yang saya alami kemarin. Saya pikir saya sudah mengubur bibit harapan di tanah yang tepat, ternyata saya salah. Tanah itu merasa dia lebih cocok untuk bibit harapan yang lain, sehingga bila saya memaksakan harapan saya dibenamkan pada tanah itu, tidak akan pernah ada hasil panen yang dapat saya nikmati.
Namun, saya tetap nekat, menanamnya di tanah tersebut, dan saya akan melakukan apa saja untuk membuat tanah itu dapat menumbuhkan bibit harapan yang saya tanam itu. Saya akan sirami setiap hari, saya akan beri pupuk yang terbaik. Jika harapan saya tidak dapat tumbuh karena faktor suhu dan cahaya matahari, saya akan bangun rumah kaca yang suhunya dapat saya atur sendiri, dan besarnya cahaya matahari yang masuk dapat saya kendalikan. Apapun agar bibit harapan itu dapat tumbuh dan berkembang indah di tanahnya.

Hingga suatu saat, tanah pengharapan itu berujar, “Ada banyak jenis tanah pengharapan di dunia ini, dan selalu ada yang lebih baik daripada tanah ini untuk harapanmu bertumbuh,” di saat itulah bibit harapan saya mati.

Namun, siapa yang akan tau masa depan, mungkin saya masih nekat menanam bibit harapan di tanah pengharapan yang sama, yang saya lakukan dengan… diam-diam.

Pada ketanyaannya, hidup itu memang penuh dengan kaus kaki-kaus kaki yang digantungkan penuh harap. Yang mungkin akan berisi perwujudan atau hanya sebatas harapan kosong.

Begitulah kaus kaki kehidupan.
Life s*cks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s