Ranking 1

Ranking 1

Tau acara quiz di TV yang satu ini kan? Puluhan orang berkompetisi untuk jadi si Ranking 1. At the end of the game, dia bakal dapet piala dan hadiah atas kompetisi yang berhasil dia menangkan itu.

Saat sekolah SD dulu, saya berusaha semaksimal mungkin bisa meraih peringkat 1 di kelas. Rasanya gak rela kalau saya hanya duduk di Ranking ketiga. Dan ketika saya berhasil jadi ranking 1, ibu dan bapak saya menghadiahkan kaset dari boyband asal Inggris, “Westlife” untuk saya. Di tahun-tahun berikutnya saya juga dapet album boyband “Blue” atau “Britney Spears”.

Semakin menginjak masa remaja, persaingan semakin sulit untuk meraih peringkat 1 di kelas, apa lagi di sekolah. Dan semakin berat juga permintaan saya kepada orang tua sebagai rewards atas prestasi saya di sekolah. Yang pada akhirnya malah memberatkan mereka.

Suatu ketika saya mengalami kenyataan bahwa sebenarnya sekolah memberi rewards kepada siswanya yang bisa membawa nama sekolah di kompetisi antar sekolah. Saya dan teman-teman pun menikmati hasilnya.

Masuk ke dunia perkuliahan, persaingan semakin menjadi. Target saya adalah bisa mempertahankan nilai setiap semesternya agar tidak di bawah standar beasiswa yang saya dapat. Ya, persaingan yang paling keras adalah melawan hawa nafsu bermalas-malasan. Tidak ada yang bisa membuat IP saya bagus selain saya sendiri dan Tuhan pastinya. Beasiswa adalah rewards yang saya nikmati dari persaingan itu.

Dan sekarang, memasuki dunia kerja, persaingan menjadi semakin berat. Politik, ekonomi, dan rupa-rupa aspek mempengaruhi kondisi perusahaan. Mempengaruhi kinerja kita juga di kantor. Dan bisa saja ekspektasi dan harapan yang sudah kita bangun, berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.

Target saya sejak saya tau bahwa ada penilaian kinerja di kantor ini adalah saya harus bisa meraih peringkat 1. Saya harus bisa menjadi si Ranking 1. Terkesan ambisius memang, namun adalah harapan untuk hidup yang lebih baik yang berada dibalik ambisi itu. Ketika ambisi itu pada akhirnya dapat tercapai, bukan lagi CD boyband Coboy Junior atau Sm*sh yang membuat hidup saya menjadi lebih baik, tidak juga piala atau hadiah sepatu Bata yang saya harapkan, tidak juga tambahan uang saku dari orang tua atas prestasi kerja yang sudah kita capai. Dan ketika harapan itu tidak tercapai, haruskah saya kembali berkelana mencari kompetisi lain yang lebih menjanjikan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s