Dia Tumbuh Bersama Rasa Sabar

Dia Tumbuh Bersama Rasa Sabar

Usia semakin dewasa. Undangan pernikahan dari kawan-kawan sudah semakin banyak diterima. Lalu kapan tiba giliran saya yang disibukkan dengan masalah “siapa-siapa aja yang akan saya masukkan ke daftar undangan?”

Ketika seorang teman perempuan di kantor saya bertanya, “Ra, target nikah kapan?” Saya kemudian tertawa pelan lalu menjawab, “Gak mau pake target ah, takut stress sendiri nantinya.” Waktu saya ceritakan hal ini ke kawan yang lain, dia merespon, “Target itu penting, Ra supaya lo bisa merencanakan kehidupan lo ke depan.” Well, saya setuju akan hal itu.

Selama ini saya selalu beranggapan bahwa jodoh saya nanti yang sudah Allah siapkan untuk saya akan didatangkan melalui cara yang tidak diduga-duga. Tapi, yaaa saya gak bisa berbuat apa-apa. Saya hanya bisa bersabar menanti waktu itu datang.

Mungkin apa yang saya lakukan ini dilihat orang lain sebagai bentuk “pasrah” tanpa adanya usaha. Namun, di tengah menjaga rasa sabar itu saya harus tetap memperbaiki diri, karena laki-laki yang baik adalah untuk perempuan baik-baik juga.

Dan sepertinya saya harus menghilangkan kebiasaan saya bercanda tentang perasaan saya terhadap orang lain di depan teman-teman sendiri. Saya tau benar kalau hal ini sulit saya wujudkan. Namun, sulit bukan berarti tidak mungkin.

One thought on “Dia Tumbuh Bersama Rasa Sabar

  1. eciieee…

    “diam bukan berarti pasrah”
    “laki-laki yg baik untuk perempuan yg baik”
    “memperbaiki dan memantaskan diri juga salah satu bentuk usaha mendekatkan diri kepada jodoh”

    sukses dalam kesabaranšŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s