Pendapatan Meningkat, Konsumsi pun Demikian

Pendapatan Meningkat, Konsumsi pun Demikian

Benar adanya pendapat yang menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang tidak pernah merasa puas. Selalu saja ada hal yang lebih dan lebih lagi yang ingin dicapainya. Dan saya adalah salah satu bukti nyata dari kebenaran pendapat tersebut.

Saat saya kuliah dulu, uang saku dari orang tua dan yayasan beasiswa yang hanya sebesar Rp500,000 per bulan rasanya sudah cukup untuk menunjang kehidupan saya selama satu bulan di Depok. Namun, setelah bekerja dan bisa menghasilkan uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan, seketika itu pula kebutuhan (atau keinginan, yaa? Rasanya sih, kebutuhan) saya meningkat.

Awal masuk dunia kerja, dengan bukti setor pajak formulir 1770 SS yang saya serahkan di bulan Maret, saya merasa mampu bertahan tanpa makanan enak nan mahal, beli makan siang seharga Rp30,000 rasanya berlebihan, lebih baik naik Kopaja daripada naik taksi, dipaksakan bangun super pagi untuk menghindari kesiangan masuk kantor dan ujung-ujungnya terpaksa naik ojeg.

Sekarang, hampir 2 tahun berlalu dari fase awal di luar lingkungan kampus, dan seakan hal-hal yang sebatas keinginan dan berada di level prioritas kelima naik tingkat menjadi prioritas kedua, dan hampir-hampir menjadi suatu kebutuhan cuma gara-gara alasan (sampah): “nanti kalau gak kesampaian bisa-bisa kebawa di mimpi dan gak konsen seharian/semalaman. Bahkan bisa nyesel berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.”

Dulu, makan rendang Padang di warung nasi Padang serba Rp7,000 aja cukup, sekarang sekalinya pengen makan daging maunya makan steak Holycow yang seiris biayanya lebih dari Rp100,000. Dulu, lidah gak biasa makan sushi santai-santai aja, sekarang setiap Minggunya pasti ada saat di mana bau sushi terus melayang di udara yang dihirup, pedesnya wasabi selalu pengen nyetrum di otak, dan kebayang-bayang terus enaknya Sushi Tei. Dulu, paling menghindari balik terlalu malem karena takut di angkutan umumnya, sekarang santai aja mau pulang jam berapa pun asal dapet taksinya gampang. Dulu, gak nonton film di bioskop selama 6 bulan berturut-turut rasanya fine-fine aja, sekarang gak nonton film satu pun dalam sebulan rasanya udah ketinggalan jaman banget. Dulu punya 2 handphone, satunya GSM dan satunya lagi CDMA yang layarnya masih monokrom aja udah hebat banget. Sekarang, seenggaknya mesti punya BB atau Android atau Iphone atau bahkan salah dua atau ketiga-tiganya untuk ditenteng ke mana-mana. Dulu, mau sepedaan keliling kampus aja udah bagus, sekarang maunya langganan di gym, walaupun cuma dipake buat lari-lari kecil setengah jam terus numpang mandi.

Ya, semakin meningkat penghasilan kita, tanpa kita sadari -ataupun disadari- gaya hidup kita juga upgrade. Semuanya harus serba kualitas bagus, mulai dari makanan, fasilitas olahraga, transportasi, dan lain-lain.

Namun, ada baiknya pendapatan yang meningkat itu pun meningkatkan pula nominal untuk aktivitas sosial kita, serta meningkatkan pula kebutuhan akan investasi masa depan kita. Sudah saatnya memperhitungkan besarnya tabungan untuk menikah nanti (tabungan untuk membangun rumah tangga maksud saya). Sudah harus dipikirkan DP rumah, walaupun entah kapan akan ditempati dan dengan siapa rumah itu akan dihuni, terutama untuk laki-laki. Ya, walaupun kita gak tau akan menjalani hidup dengan anak raja kah, anak jendral kah, anak presiden kah, anak menteri kah, anak pengusaha kah, anak guru kah, anak petani kah nanti, kita sudah harus punya tabungan untuk konsumsi masa depan kita sejak sekarang, karena kita tidak bisa bergantung terus pada sang raja, komandan batalyon, atau pun pak tani di desa. Kita harus bisa mandiri, membangun kehidupan yang lebih baik dengan pasangan kita nanti.

Coba diimbangin konsumsi saat ini dan konsumsi masa depan. #note to my self#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s