“Jangan Takut!”

“Jangan Takut!”

Pekan lalu seorang teman dekat gue di kantor yang lama chat gue, dia ngasih kabar yang luar biasa bikin gue senang seketika. Dia hamil. Fase terbaru dalam hidupnya bakal dijalaninya. Awalnya dia takut banget kalo sampai harus hamil. Masih ada cita-cita A, B, dan sebagainya yang ingin dia capai, dan menjadi seorang ibu adalah cita-citanya di nomor besar. Namun, mendapati bahwa ada calon bayi yang bertumbuh di rahimnya saat ini, bahagianya itu luar biasa. Dia menyadari bahwa egoisme itu gak boleh berlama-lama tinggal di dirinya. Menurutnya, yang perlu kita lakukan adalah “jangan takut.” Ya, jangan takut.

Gue terus-menerus mengucap kalimat itu, “jangan takut!” Berusaha meyakinkan diri gue kalau takut itu tiada guna. Kecuali rasa takut kepada Tuhan.

Resign atau bertahan di kantor sekarang. Kalau lingkungan di kantor yang sekarang menyenangkan dan telah membuat kita nyaman, rasanya enggan untuk kita beranjak dari zona nyaman ini. Kita takut kalau resign nanti, lingkungan kerja yang baru akan tidak menyenangkan, pekerjaannya terlalu berbelit-belit, bosnya terlalu detil dan gak asyik, dan sebagainya dan sebagainya.

Dan gue pernah berada dalam situasi seperti itu. Hingga akhirnya gue harus mau tidak mau meninggalkan kantor yang penuh kenyamanan itu, untuk memasuki dunia kerja yang lain lagi. Bisa dibilang, kalau gue ini dipaksa oleh situasi untuk tidak takut pada perubahan yang akan gue jalani.

Entah kapan gue akan berani bersikap, tidak takut untuk berubah, dan lebih memilih untuk menemui kebosanan daripada terbuai dalam kenyamanan suatu fase kehidupan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s